Makna Kain Ihram Haji dan Umroh

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh – Saat kita pergi umroh maupun haji, tentunya kita mengenakan kain putih yang dinamakan kain ihram. Modelnya yang menyerupai kain panjang dan diselempangkan bagi kaum adam ini digunakan sebagai pengganti pakaian ketika kita bertamu ke rumah Allah.

Sejarah pakaian ihram dikatakan berawal dari sejak zaman Nabi Ibrahim A.S, hal ini dapat dilihat dari etika berpakaian kaum zaman “Mesopotamia Purba”. Namun lebih didorong lagi dengan etika cara berpakaian masyarakat Timur Tengah dari Kalangan bangsa Arab dan Yahudi khususnya.  oleh karena itulah syari’at cara berpakaian Ihram hanyalah untuk ketika menunaikan ibadah Haji ataupun Umroh saja, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Memakai pakaian ihram dengan benar, bersih dan suci dapat mendekatkan seseorang hamba kepada Allah SWT, selain juga akan dapat menghilangkan rasa congkak dan takabur.

Kata “ihram” berasal dari bahasa Arab : أَحْرَمَ يُحْرِمُ إِحْرَامًا  yang mengandung arti menjadikan ia haram, yaitu pada saat seseorang sudah berniat takbiratul ihram maka ia sudah berniat dengan sukarela karena Allah mengharamkan apa-apa yang sebelumnya halal menjadi haram setelah takbiratul ihram.

Contohnya adalah pada saat seseorang akan menunaikan Ibadah Sholat. Makan dan minum sebelumnya itu halal untuk dilakukan. Tetapi kalau seseorang sudah memulai takbiratul ihram, maka sudah berniat dengan sukarela sepenuh hati karena Allah Ta’ala mengharamkan makan dan minum untuk dilakukannya dimana sebelum dia takbiratul ihram, itu adalah halal baginya. Ihram juga merupakan satu keadaan yang wajib dilakukan orang Islam dalam melaksanakan ibadah Haji  atau Umroh.

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh – Melakukan ibadah umroh dan haji bisa juga disebut tindakan bertamu, yakni bertamu ke rumah Allah atau yang dalam bahasa Arab disebut “baitullah”. Tahapan awal dalam melakukan ibadah haji adalah menjalankan ihram, dengan wujud niat dan memakai pakaian ihram. Secara singkat, kain ihram merupakan simbol pelepasan atribut keduniawian yang melekat pada manusia dan dianggap kembali fitrah seperti masa ia pertama kali dilahirkan. Karena semua manusia, baik pria dan wanita, dan dari manapun dia berasal, tetap terlihat sama di mata sang Pencipta.

Tiga Pesan Penting Mengenai Kain Ihram Menurut Ibnu Abbas

Ibn Abbas, salah satu sahabat yang dijuluki “lautan ilmu”, serta sosok yang dapat dikatakan mengenal Nabi Muhammad dengan baik, memiliki “renungan” tersendiri perihal pakaian ihram. Imam Abu Bakr al-Bakri dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin mengutip dari ar-Raudl al-Faiq, mengungkapkan bahwa suatu kali Ibn Abbas pernah ditanya perihal hikmah dari beberapa “perilaku” dalam ibadah haji.

Beliau lalu menyatakan “Tidak ada sedikitpun dari beberapa perilaku haji serta yang berkaitan dengannya, kecuali di dalamnya ada hikmah mendalam, nikmat yang lengkap serta cerita, sesuatu dan rahasia yang tiap mulut akan kesulitan dalam menjelaskannya”. Lalu Ibn Abbas mengungkapkan tiga hal berkaitan pakaian ihram:

Sesuaikan pakaian bergantung pada siapa kita bertamu

Kebiasaan manusia apabila mendatangi manusia lain maka pasti akan memakai pakaian paling yang paling rapih dan membanggakan. Dengan adanya keharusan ihram memakai kain putih tidak berjahit yang bertolak belakang dengan kebiasaan manusia tersebut, Allah seakan ingin memberi tahu kita bahwa tujuan untuk mendatangi tempat Allah berbeda dengan mendatangi tempat makhluk.

Kita harus bisa menyesuaikan kepada siapa kita akan bertamu, baik ke teman, tetangga, pasar, bahkan ke rumah Allah, semua ada adab nya masing-masing. Kesadaran kita untuk mendatangi Allah haruslah berbeda dengan mendatangi manusia maupun makhluk secara umum. Allah adalah sang khaliq (pencipta), sedang selain-Nya adalah makhluk (ciptaan).

Memakai pakaian yang bagus di hadapan manusia lain bisa jadi untuk menjaga wibawa atau memperoleh kenyamanan orang yang melihat. Sebab manusia adalah makhluk dengan ikatan-ikatan benda duniawi pada dirinya. Allah berbeda dengan manusia. Allah maha pencipta yang niscaya lebih kaya dari ciptaannya. “Nilai lebih” yang Allah pinta dari manusia adalah ketaqwaan yang sulit untuk dicerna dengan mata kepala.

Memakai ihram seakan suci seperti bayi baru lahir

Memakai ihram memberi makna bahwa menanggalkan segala sesuatu tatkala ihram, berarti kamu akan menanggalkan diri dari harta benda duniawi. Layaknya bayi yang keluar dari rahim ibunya tanpa memakai sehelaipun pakaian.

Hal ini menyiratkan bahwa memakai pakaian ihram adalah bentuk perilaku pemakainya dalam melepas hal-hal berbau duniawi. Di tubuhnya tidak ada sesuatu kecuali hal-hal yang digunakan untuk menutup aurat.

Memakai ihram seakan kita berada pada saat akan dihisab nanti

Keadaan memakai pakaian ihram itu menyerupai keadaan saat nanti kita hadir di tempat kelak kita dihisab oleh Allah. Seperti firman Allah berikut:

“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu kami ciptakan pada mulanya,” (Al-An’am ayat 94).

Luar biasa ya makna dibalik pakaian wajib kita ketika berkunjung ke rumah Allah. Betapa besar rahmat dan kasih sayang Allah untuk umat manusia dengan cara menyamaratakan mereka di hadapanNya. Semua manusia pada derajat yang sama bagi Allah, hanya dibedakan berdasarkan amal dan perbuatannya masing-masing.

Hotel Nyaman Saat Umrah

Hotel Nyaman Saat Umrah

Hotel Nyaman Saat Umrah – Buat sebagian jamaah umrah, hotel adalah salah satu fasilitas yang sangat diprioritaskan. Hotel menjadi salah satu fasilitas yang menunjang perjalanan. Termasuk ketika Anda melakukan perjalanan umrah di Mekah. Di Mekah, Arab Saudi ada banyak hotel mewah dengan pelayanan premium. Di antara hotel-hotel mewah tersebut ada beberapa di antaranya yang terbaik dan difavoritkan para jemaah umrah. Hotel-hotel ini tak hanya dipilih karena kualitasnya, tapi juga letaknya yang strategis sehingga memudahkan jemaah menjangkau tempat ibadah.

Hotel Nyaman Saat Umrah – Tidak hanya dari segi kenyamanan dan pemandangan Ka’bah dari kamar penginapan, letak hotel yang berdekatan dengan Masjidil Haram juga menjadi alasan utama jamaah umroh memilih hotel. Letak hotel yang berdekatan dengan Masjidil Haram tentu akan mempermudah para jamaah umroh untuk bolak-balik dari tempat penginapan ke masjid, sehingga jamaah dapat fokus beribadah dan mengurangi rasa lelah selama di Tanah Suci. Mereka menyediakan berbagai fasilitas dengan kenyamanan maksimal. Katering yang mereka sediakan pun lebih baik ketimbang hotel-hotel lainnya.

Kepada calon tamu Allah yang sedang mencari referensi hotel dengan jarak yang tidak jauh dengan Masjidil Haram dan memiliki view langsung ke Ka’bah, mari simak ulasan berikut ini.

  • Hilton Mekkah

Hotel Hilton berada di tengah kota Makkah (Mekkah). Hotel ini tidak hanya menawarkan kenyamanan bagi orang yang ingin bermalam disana, namun juga memiliki pemandangan menghadap Ka’bah serta memiliki pintu private untuk memasuki Masjidil Haram. Selain itu, Hotel Hilton juga menawarkan beragam fasilitas seperti makanan lezat, pusat kebugaran, dan pelayanan yang ramah.

Keberadaan Hotel Hilton yang berada di jantung kota Makkah (Mekkah) membuat pilihan favorite hotel para jamaah umroh.

  • Pullman Zam-zam Mekkah

Selain memiliki bangunan yang mewah, Hotel Pullman Zam-zam juga memiliki beberapa pilihan kamar yang menawarkan pemandangan ke Ka’bah. Hotel Pullman ini terletak di Abraj Al-Baiq Tower sehingga hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk sampai Masjidil Haram dengan berjalan kaki. Tidak heran jika hotel ini menjadi pilihan hotel umrah bagi yang membutuhkan kenyamanan.

Hotel Pullman Zam-zam juga memiliki salah satu tipe kamar yang lebih luas dari standar hotel pada umumnya dengan konsep yang seperti apartemen. Tipe kamar suite tersebut dilengkapi dengan dapur, lemari es dan fasilitas lainnya yang membuat nyaman seperti di rumah.

  • Swissotel Makkah

Hotel yang sudah berdiri di kota Makkah (Mekkah) sejak tahun 2012 ini menawarkan berbagai macam kemegahan. Lokasinya yang memiliki 1400 kamar ini memiliki letak yang sangat dekat dengan Masjidil Haram. Hotel Swissotel juga menyediakan berbagai macam tipe kamar yang dapat disesuaikan dengan budget tamu Allah yang ingin menginap di sana.

Hotel ini juga sengaja dibuat menghadap area Masjidil Haram, agar para tamu Allah yang menginap disana dapat melihat Ka’bah dari dalam kamarnya.

  • Mekkah Royal Clock Tower Fairmont Hotel

Pernah melihat jam besar yang berada di area Masjidil Haram? Bangunan tersebut adalah Mekkah Clock Royal Tower Fairmont Hotel. Hotel ini merupakan salah satu hotel termegah yang ada di Makkah (Mekkah), jarak antara lokasi hotel Fairmont ke Masjidil Haram hanya sekitar 50 meter.

Hotel ini memiliki 76 lantai sehingga sering disebut sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia. Selain pemandangan sebagian besar kamar yang menghadap ke Ka’bah, hotel ini juga memiliki daya tarik keindahan bangunan, interior mewah dan restoran dengan pilihan menu internasional beragam dan citarasa yang lezat. Bagi yang menginginkan kenyamanan penginapan saat beribadah umrah (umroh), hotel ini direkomendasikan menjadi salah satu pilihan terbaik.

  • Movenpick Hotel Mekkah

Pilihan hotel umroh favorit kelima adalah Hotel Movenpick Makkah (Mekkah). Hotel ini  juga memiliki tipe kamar yang memiliki pemandangan menghadap ka’bah dan juga memiliki fasilitas mall dan pertokoan. Sangat cocok untuk para tamu Allah yang mencari kemudahan dalam berbelanja dan membeli oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia. Hotel Movenpick berlokasi di komplek Abraj Al-Baiq Tower.

Tujuan utama melakukan safar agar mendapatkan ibadah umrah yang mabrur adalah dengan melakukan rukun dan tata cara umroh secara benar. Ikhtiar mencari hotel terbaik adalah salah satu cara untuk mendapatkan kenyamanan saat ibadah umroh di Tanah Suci sehingga jamaah dapat menjaga tenaga dan memfokuskan diri melakukan rukun umrah dan ibadah lainnya selama di Tanah Suci.

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji – Ibadah haji kembali menyapa kita. Para tamu Allah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Ibadah haji tidak hanya melatih aspek ketakwaan namun dalam haji seorang muslim diuji bagaimana ketakwaan diterapkan dalam kondisi seseorang memiliki kekayaan. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menyikapi dunia dengan sikap zuhud, tidak mencintai dunia dan tidak rakus terhadap materi. Islam juga mengajarkan bagaimana seseorang berlaku ketika seseorang memiliki kekayaan duniawi.

Ibadah haji melatih segenap kemampuan manusia untuk difungsikan menerjemahkan nilai-nilai ketakwaan. Ibadah haji selain merupakan ibadah ritual yang mencakup berbagai kegiatan fisik dan spiritual, juga merupakan aktifitas ekonomi yang membutuhkan kapasitas finansial yang relatif besar. Rangkaian ibadah haji memberikan gambaran miniatur ajaran Islam yang tidak memosisikan dunia selalu berlawanan dengan akhirat. Haji memberikan gambaran praktis bagaimana dunia difungsikan sebagai tangga menuju keridhaan Allah dan jembatan menuju kehidupan akhirat.

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji – adalah ritual ibadah, yang mempunyai dampak luar biasa, baik spiritual maupun ekonomi. Dalam surat al-Hajj ayat 28 Allah menyebutkan bahwa di antara maksud dan tujuan penyelenggaraan ibadah haji adalah agar umat manusia menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka. Para ulama tafsir menyebutkan diantara manfaat yang disaksikan dalam ibadah haji adalah manfaat perniagaan yang terjadi dalam musim haji. Dari ibadah haji banyak usaha bisnis yang mendapatkan keuntungan atau keberkahan seperti dunia penerbangan, kendaraan/angkutan darat, perhotelan, makanan dan minuman, telekomunikasi, industri garmen dan tekstil untuk kain ihram, jilbab, sorban, tas, kopor dan sajadah, perbankan untuk penerimaan setoran ONH, kartu kredit, dan travel check, serta lalu lintas transfer, asuransi untuk penjaminan dan perlindungan keamanan perjalanan, kendaraan, gedung, hotel, dan jiwa jamaah, jasa kurir dan kargo untuk pengangkutan kelebihan barang serta oleh-oleh, perlengkapan kemah dan tenda untuk jutaan jamaah di Arafah dan Mina dan bisnis souvenir dengan berbagai jenis barang-barang merchandise dan elektronik yang menjadi oleh-oleh jamaah untuk keluarganya di tanah air mulai dari oleh-oleh yang kecil sampai yang besar, yang murah hingga yang mahal.

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji – Hal itu merupakan merupakan sebuah peluang dan tantangan tentang sejauh mana kita, bangsa Indonesia melihat potensi ekonomi dari ibadah tahunan ini. Jika dimanfaatkan dengan baik, maka musim haji bisa menjadi peluang untuk mengurangi angka pengangguran, meningkatkan perdagangan, dan meningkatkan perekonomian. Tun Musa Hitam, mantan wakil perdana menteri Malaysia mengemukakan besarnya potensi dana haji yang bisa dikelola untuk meningkatkan ekonomi. Malaysia melalui Lembaga Tabung Haji (LTH) telah berhasil melakukan hal itu dan memutarnya ke dalam berbagai sektor riil yang berperan besar dalam menggerakkan dan memajukan ekonomi negaranya. Keberhasilan Malaysia mengelola dana haji melalui Lembaga Tabung Haji (LTH) yang didirikan tahun 1963 dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah serta semua unsur yang terlibat dalam pengelolaan jamaah haji.

Dilema Pengelolaan Haji Potensi besar dana haji ini juga diperkuat dengan fakta besarnya dana dalam kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan mantan Menteri Agama dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji sebesar Rp 700 miliar. Bahkan hasil audit BPKP menemukan penyimpangan yang besarnya mencapai Rp 1 triliun. Bayangkan, dengan kuota haji sekitar 200 ribu orang per tahun, juga kelebihan dana haji yang mungkin berkisar antara Rp 4 juta-Rp 5 juta per jamaah per musim haji. Tentu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya manfaat atas keuntungan penyelenggaraan haji ini kalau di manage secara benar dengan prespektif kesejahteraan umat. Padahal Malaysia saja, hanya memiliki kuota haji sebesar 2.000 orang per tahun mampu membangun sebuah lembaga Tabung Haji yang berhasil dan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Meski bersifat komersial mirip BUMN, Tabung Haji mengedepankan sikap profesional dan amanah terhadap dana umat.

Warga yang hendak naik haji pun bisa membayar lebih murah karena bisa mengangsur antara 5 hingga 20 tahun. Saat ini biaya haji atau ONH yang dibayar jemaah asal Malaysia lebih rendah. Mereka membayar ONH 10 ribu ringgit (sekitar Rp27 juta), sedangkan jemaah asal Indonesia sekitar Rp36 juta/orang. Penipuan terhadap jemaah haji yang dilakukan pihak yang terlibat merupakan persoalan yang perlu diselesaikan bersama. Ketidakjujuran dalam pengelolaan biaya haji baik oleh oknum pemerintah atau pun swasta sangat berkaitan dengan ujian ketakwaan yang merupakan inti tujuan haji itu sendiri.

Berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaan haji mesti diperhatikan. Pertama, urusan haji telah menjadi ladang bisnis yang luar biasa besar dan menguntungkan berbagai pihak. Kedua, urusan haji telah menjadi lahan Depag yang memberi kebanggaan tersendiri, kenikmatan dan keuntungan. Ketiga, urusan haji telah melibatkan bermacam kepentingan, tidak hanya motif ibadah, tetapi juga politik dan ekonomi. Oleh karena itu, mereka yang menikmati pelaksanaan haji seperti selama ini, tidak akan rela melepaskannya begitu saja.

Maka jika ingin mengelola dan mendayagunakan potensi ekonomi haji yang luar biasa besar untuk kemajuan ekonomi bangsa, harus dengan political will dari pemimpin pemerintahan yang didukung oleh para wakil rakyat kita yang duduk di DPR. Hal penting seringkali terluputkan adalah jiwa kebersamaan dan kepedulian sosial yang ingin ditumbuhkan dalam ibadah haji. Dalam ritual-ritul haji selalu jemaah haji mengerjakan ibadah secara bersama. Dan setelah haji yang diakhiri dengan menyembelih hewan kurban juga jemaah haji diajarkan untuk mengingat sesama dengan memberikan daging kurban kepada fakir miskin dan menghadiahkannya kepada tetangga. Ibadah haji mengajarkan umat Islam untuk jauh dari sifat individualisme dan jiwa egois, sehingga kesejateraan dan kemakmuran dapat dinikmati oleh setiap umat islam dan berdampak pada keseimbangan sosial dan pemerataan ekonomi.

Kemuliaan Haji dan Umrah

Kemuliaan Haji dan Umrah

Kemuliaan Haji dan Umrah – Banyak anugerah dan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya, salah satunya adalah kenikmatan dengan diberikannya kesempatan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah yang tidak lain sedikit sekali orang yang mampu untuk melaksanakannya karena berbagai alasan. Maka panggilan haji tersebut harus kita syukuri dan kita laksanakan dengan sebaik mungkin.

Kemulian-kemuliaan orang yang melaksanakan ibadah haji banyak sekali, kemulian-kemuliaan tersebut bisa kita lihat dari hadits-hadits yang telah dikumpulkan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani didalam kitabnya yang berjudul Khosois al-Ummah al-Muhammadiyah. Berikut adalah beberapa kemulian-kemulian tersebut :

Kemuliaan Haji dan Umrah – Bagi yang telah melaksanakan ibadah haji, maka ibadah tersebut dapat melebur dosa yang telah lampau. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi : ” Amr bin al-‘Ash menceritakan “setelah Allah SWT memasukkan Islam didalam hatiku, kemudian aku datang untuk menghadap kepada Rasulullah SAW, kemudian aku berkata kepada Rasulullah SAW “ulurkanlah tangan anda wahai Rasulullah SAW, aku pasti akan membaiat anda (menyatakan sumpah setia)”, ketika beliau mengulurkan tangan beliau, tiba-tiba tanganku lemas. Kemudian beliau bertanya kepadaku “Wahai Amr bin al-Ash engkau kenapa?”, aku menjawab “aku hendak mengajukan persyaratan”, beliau pun bertanya lagi “persyaratan apa itu?”, kujawab “hendaknya aku diampuni atas segala kesalahanku”, kemudian beliau pun menjelaskan “apakah engkau tidak tahu wahai Amr bin al-‘Ash bahwa Islam mengikis habis apa saja sebelumnya?, hijrah juga mengikis habis apa saja sebelumnya?, dan ibadah haji pun mengikis habis apa saja sebelumnya?”.

Orang yang telah melaksanakan ibadah haji adalah termasuk utusan Allah SWT. Abu Hurairah RA pernah mengatakan : “Ada tiga orang yang menjadi utusan Allah SWT yaitu orang yang berangkat ke medan perang, orang yang menunaikan ibadah haji, dan orang yang berumroh”. (H.R. An-Nasa’i).

Kemuliaan Haji dan Umrah – Kemudian Ibnu Umar RA juga menuturkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “orang yang menunaikan ibadah haji dan orang yang berumroh, mereka adalah utusan Allah SWT. Jika mereka meminta sesuatu tentu akan dikabulkan oleh Allah SWT, dan jika mereka mengeluarkan harta, maka tentu mereka akan memperoleh penggantinya. Demi Allah SWT yang nyawa Abul-Qasim (Nabi Muhammad SAW) berada di tangan-Nya, siapa pun yang bertahlil dan siapa pun yang bertakbir diatas salah satu tempat suci dan mulia, berarti ia telah bertahlil dihadapan Allah SWT dan bertakbir mengagungkan kebesaran-Nya hingga berhenti di Mablaguth turob”. (Dikutip dari Tamam ar-Razi dan Ibnul Jauzi dari kitabnya masing-masing, yaitu Al-Fawaid dan Mutsirul Gharam Askin)

Orang yang telah melaksanakan ibadah haji adalah orang yang berjihad, karena disana ada perjuangan jasmani dan rohani. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yaitu “jihadnya orang besar, orang kecil, laki-laki, dan perempuan adalah menunaikan ibadah haji dan umroh”.(H.R. An-Nasa’i)

Orang yang menunaikan ibadah haji, maka segala do’anya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Ibnu Abbas RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Lima orang yang do’anya tidak akan tertolak yaitu : do’anya orang yang menunaikan ibadah haji hingga ia kembali, do’anya orang yang berada di medan perang untuk menegakkan agama Allah SWT hingga ia pulang, do’anya orang yang teraniaya hingga ia tertolong, do’anya orang yang sakit hingga ia sembuh, dan do’anya seorang saudara untuk saudaranya yang tidak hadir. Dan do’a yang paling cepat untuk dikabulkan adalah do’anya seorang saudara untuk saudaranya yang tidak hadir”.

Hadits diatas adalah hadits shahih dari hadits Sa’ad bin Jubair yang menerimanya dari Ibnu ‘Abbas RA. Oleh karena itu kita disunnahkan untuk meminta dido’akan oleh seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Karena hal itu dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Ketika Umar bin Khattab hendak berpamitan kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan umroh, dan Rasulullah SAW pun mengizinkan sahabat beliau tersebut untuk melaksanakan umroh. Kemudian beliau mengatakan kepada Umar bin Khattab “Jangan sampai anda lupa untuk mendo’akan kami, atau sertakanlah kami disetiap do’a yang anda panjatkan”. (H.R. Abu Dzar al-Harawi)

Biaya ibadah haji adalah merupakan infaq fisabilillah. Buraidah menuturkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “Biaya ibadah haji sama dengan infaq fisabilillah, satu dirham diganti dengan tujuh ratus kali lipat’. (H.R. Syaiban dan Imam Ahmad)

Biaya yang telah dikeluarkan untuk melaksanakan ibadah haji akan mendapatkan penggantinya. Sebuah hadits menegaskan “Orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan umroh adalah utusan Allah, jika mereka meminta sesuatu maka akan dikabulkan, dan jika mereka mengeluarkan biaya, maka mereka akan memperoleh penggantinya”. (HR. Tamam ar-Razi)

Dalam sebuah hadits lain juga disebutkan “Allah SWT telah berfirman kepada malaikat-malaikat-Nya, “gantilah apa yang telah mereka (orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah) infaqkan, yaitu semua biaya yang telah dikeluarkan”.

Orang yang menunaikan ibadah haji berhak mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Abu Umamah dan Watsilah bin al-Asqa’ keduanya mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Empat perkara yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT yaitu, orang yang berangkat ke medan perang untuk menegakkan agama Allah SWT, orang yang sudah memiliki pasangan (sudah menikah),  seorang budak yang dijanjikan akan mendapatkan kemerdekaan jika budak tersebut sanggup membayar sejumlah uang kepada tuannya, dan orang yang sedang menunaikan ibadah haji dan umroh”.

Orang yang menunaikan ibadah haji akan diberikan keistimewaan untuk memberikan syafaat kepada empat ratus anggota keluarganya. Abu Musa al-Asy’ari RA menuturkan “Orang yang menunaikan ibadah haji akan diberikan keistimewaan untuk memberikan syafaat kepada empat ratus anggota keluarganya”. (Dikutip dari  Abdurrazzaq dari dalam musnadnya)

Itulah beberapa kemuliaan orang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Semoga mereka  yang sudah melaksanakan maupun yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji diberi oleh Allah SWT gelar haji yang mabrur, dan bagi yang belum mampu menunaikannya semoga segera diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menunaikannya. Aamiin…Aamiin..Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat – Hari Jumat bagi umat Islam merupakan hari paling istimewa dan banyak keberkahan di dalamnya. Karena itu, sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah. Salah satunya membaca Surat Al Kahfi tiap Jumat.  Membaca Surat Al Kahfi bisa dilakukan pada malam Jumat atau Hari Jumat. Rasululullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan sejumlah sahabatnya menyebutkan sejumlah keutamaan bagi orang yang membaca Surat Al Kahfi tiap Jumat.

  1. Menghindarkan diri dari fitnah Dajjal

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat – Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang membaca Al Kahfi pada hari Jumat, maka akan memancarkan cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan menerangkannya kelak pada hari kiamat dan diampuni dosanya antara dua Jumat. (HR. Abu Bakr bin Mardawalh.)

  1. Diampuni dosa-dosanya

Imam Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Umar,” Barang siapa membaca surah Al Kahfi pada hari jum’at maka akan ada cahaya yang menyinari dari telapak kakinya hingga langit yang akan menyinarinya kelak pada hari kiamat. Dan dosanya akan diampuni di antara dua Jumat.”

  1. Rumahnya tidak akan dimasuki setan

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal,” Rumah yang dibacakan di dalamnya surah Al Kahfi atau Al Baqarah tidak akan dimasuki setan sepanjang malam itu.”

  1. Dipancarkan cahaya sejauh dirinya dan Ka’bah

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa membaca surah Al Kahfi pada malam jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dan Baitul ‘Atiq (Ka’bah).” (Suran Ad-Darami, no. 3273).

  1. Dipancarkan cahaya diantara dua Jumat

Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri ra,”Barangsiapa membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumat.”

  1. Dijaga doa di antara dua Jumat

Abdullah bin Umar ra berkata; Rasulullah bersabda,”Siapa yang membaca surah Al Kahfi pada hari jum’at maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit akan meneranginya kelak pada hari kiamat dan diampuni dosanya antara dua Jumat.”

  1. Disinari di hari kiamat

Imam Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Umar,”Barangsiapa membaca surah Al Kahfi pada hari jum’at maka akan ada cahaya yang menyinari dari telapak kakinya hingga langit yang akan menyinarinya kelak di hari kiamat.”

Dari surat Al Kahfi ini, kita bisa tahu bahwa segala sesuatu harus dilandaskan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dengan begitu, semua hal yang kita lakukan akan senantiasa diberkahi dan diridhoi oleh Allah.

Bagaimana pun, membaca surat Al Kahfi ini punya banyak sekali hikmah dan keutamaan yang menyertai. Untuk itu, mulai biasakan membaca Al Kahfi pada hari Jum’at, malam Jum’at atau hari lainnya agar memproleh semua keutamannya.