Paket
Fasilitas
Galeri
Chat me
Larangan Haji yang wajib dipatuhi

Larangan Haji yang wajib dipatuhi

Ada beberapa hal yang wajib dipatuhi seluruh jamaah ketika melaksanakan ibadah haji, salah satunya adalah larangan haji. Dalam pelaksanaanya, ibadah haji dan memiliki rukun-rukun yang wajib dilaksanakan, diantaranya adalah berihram dan niat haji.

Seperti yang diketahui, ihram adalah menetapkan niat untuk mengerjakan ibadah haji dengan menggunakah pakaian ihram, ihram sendiri dimulai dari suatu tempat dan waktu yang telah ditentukan, atau disebut juga sebagai miqat.

Dalam ibadah haji, sejak saat dimulai hingga akhir pelaksanaannya, ada beberapa hal yang halal dan dapat berubah, menjadi haram. Hal-hal yang menjadi haram selama melakukan haji dalam keadaan ihram ini wajib untuk diketahui oleh jamaah. Lantas, apa saja larangan haji tersebut?

Larangan berhaji harus diperhatikan selama berhaji, yang disebut juga sebagai muharramat haji atau perbuatan perbuatan yang dilarang selama berhaji. Muhammarat haji termasuk wajib haji jika larangan dilanggar maka harus membayar denda atau dam.

Terdapat 3 kelompok larangan haji, satu kelompok larangan khusus perempuan, satu kelompok larangan khusus laki-laki, dan satu kelompok larangan khusus laki-laki dan perempuan. Buku disiplin berhaji menuju haji mabrur menyebutkan bahwa ada 3 jenis larangan khusus laki-laki yaitu memaakai pakaian berjahit, memakai sepatu yang menutup mata kaki, menurup kepala larangan haji tersebut juga dikuatkan dengan salah satu hadits Bukhari dan Muslim.

“Orang yang berihram tidak boleh memakai baju, ikat kepala, topi, celana, kain yang dicelup dengan sesuatu yang harum, dan sepatu, melainkan jika tidak mempunyai terompah, maka ia boleh memakai sepatu, hendaklah sepatunya dipotong dibawah mata kaki.” (H.R Bukhari-Muslim)

Sementara itu, larangan bagi jamaah perempuan ada 2 larangan, diantaranya adalah berkaus tangan dan menutup muka, Larangan tersebut terdapat pada hadist Bukhari dan Ahmad.

“Dari ibnu Umar r.a Nabi SAW telah bersabda ‘tidak boleh seorang perempuan yang ihram menutup muka (memakai cadar) dan tidak boleh pula menggunakan sarung tangan.” (H.R Bukhari-Ahmad).

Selanjutnya, larangan haji yang tidak boleh dilakukan  oleh kelompok khusus laki-laki dan perempuan adalah memakai wangi wangian, memotong kuku dan mencukur atau mencabut bulu badan, sengaja menganggu, memburu, dan membunuh binatang, kawin dan mengawinkan atau meminang wanita untuk dinikahi, dilarangnya bersetubuh dan dilarang memotong dan mencabut pepohonan.

Dalam keadaan ihram maupun dalam keadaan halal, ada hal-hal larangan haji seperti menganggu binatang buruan yang bukan binatang ternak; memetik, memotong atau mematahkan tumbuhan yang tumbuh karena ditanam orang lain; dan memungut barang temuan, kecuali pada orang yang akan meniat mengumumkannya supaya diketahui dan diambil kembali oleh pemilik barang tersebut.

Nah,itulah sejumlah hal yang perlu kamu ketahui mengenai larangan Haji. Semua larangan haji tersebut wajib hukumnya untuk dipatuhi selama ihram.

Haji Furoda

Syarat Umroh Haji Tahun 2022 Terbaru

Syarat Umroh Haji Tahun 2022 Terbaru

Pemerintah Arab Saudi kembali membuka penyelenggaraan ibadah haji bagi orang di luar kerajaan. Adapun kuota yang diberikan sebanyak 1 juta untuk jemaah lokal maupun luar negeri. Pemerintah Indonesia sendiri telah memastikan bahwa calon jemaah haji Indonesia bisa berangkat. Lantas apa saja syarat umroh dan haji tahun 2022 saat ini?

Syarat Umroh Haji 2022

syarat umroh haji 2022

Sesuai dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi, berikut adalah syarat jemaah Haji dan Umroh Tahun 2022:

  1. Berusia di bawah 65 tahun
  2. Sudah mendapat vaksin COVID-19 dosis lengkap yang diakui WHO
  3. Sudah mendapat vaksin meningitis
  4. Melampirkan hasil PCR negatif (maks. 3 x 24 jam)
  5. Jangan lupa untuk membuat Sertifikat Internasional Arab Saudi (KSA [Tawakkalna]) melalui aplikasi PeduliLindungi

Syarat Umroh 2022

Adapun dalam pernyatannya, Kementerian Haji dan Umrah menyebut bahwa sertifikat vaksin jemaah harus memuat data pribadi, nama vaksin, tanggal, dan nomor batch.

Bagi jemaah yang tidak memiliki kartu identitas nasional atau identitas penduduk karisidenan Arab Saudi dapat mendaftarkan vaksinasi secara elektronik.

Arab Saudi sendiri telah menetapkan sejumlah vaksin Covid-19 yang diakui sebagai syarat haji. Mulai dari Pfizer-BioNTech, Moderna, Oxford-AstraZeneca, Janssen, Sinopharm, Sinovac, Covaxin, Estetika (Sputnik V), Kofovax.

Kabar pelonggaran protokol kesehatan bagi PPLN Arab Saudi disambut dengan baik oleh berbagai pihak. Namun demikian, Hilman mengimbau agar Jemaah umrah/haji tetap berhati-hati. Saat ini, pemakaian masker di ruang publik sudah tidak diwajibkan oleh Pemerintah Arab Saudi. Akan tetapi, mereka mewajibkan agar Pelaku Perjalanan Luar Negeri sudah divaksinasi lengkap dan memiliki proteksi asuransi kesehatan.

“Untuk Jamaah umrah sudah ada asuransinya. Agen haji dan umrah juga harus turut dalam pengawasan Jemaah”, imbuh Hilman.

Pada kesempatan yang berbeda, Subkoordinator Humas Ditjen Imigrasi, Achmad Nur Saleh mengatakan bahwa Imigrasi siap memberikan pelayanan dokumen perjalanan (paspor) dan pemeriksaan keimigrasian bagi calon jamaah haji dan umrah jika sudah ada lampu hijau dari instansi yang berwenang.

“Pada dasarnya petugas Imigrasi selalu siap, stand by. Terutama karena kita juga sudah memasuki tahap pemulihan ekonomi yang menuntut semua unsur terkait, termasuk Imigrasi, untuk siap sedia. Personel di kantor imigrasi dan Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) entry points yang ditetapkan Pemerintah RI akan menyesuaikan dengan regulasi yang ada”, pungkas Achmad.

Ia menambahkan, bagi masyarakat yang akan mengajukan permohonan pembuatan paspor untuk keperluan haji atau umrah, terdapat persyaratan khusus. Syarat tersebut yaitu menunjukkan bukti setoran BPIH atau Rekomendasi Kemenag.

Haji Furoda

Perbedaan Haji dan Umrah, Mulai dari Hukum, Waktu, hingga Kewajibannya.

Perbedaan Haji dan Umrah, Mulai dari Hukum, Waktu, hingga Kewajibannya.

Perbedaan Haji dan Umrah – Haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilakukan oleh muslim yang mampu. Kata haji sendiri berasal dari kata Al-Hajju yang berarti Al-Qashdu, yang berarti sengaja. Menurut definisi syara, haji adalah menyengaja pergi ke Ka’bah untuk melakukan amalan-amalan dan syarat-syarat tertentu. Sedangkan, umrah diartikan sebagai ziarah ke baitullah untuk melaksanakan amalan-amalan tertentu, yaitu tawaf, sai, dan bercukur. Haji dan umrah merupakan ibadah umat muslim yang memiliki kesamaan yaitu dikerjakan di Tanah Suci Mekkah dengaan sengaja mendatangi ka’bah. Namun, ibadah ini juga memiliki beberapa perbedaan, yang terletak pada aspek hukum, waktu, hingga kewajibannya.

PERBEDAAN HAJI DAN UMRAH

Hukum

Perbedaan pertama antara haji dan umrah terletak pada hukumnya. Hukum Haji adalah wajib bagi seluruh umat islam yang memenuhi syarat wajib untuk melaksanakannya sesuai pada rukun islam yang kelima.

Hal ini sesuai firman Allah, yaitu sebagai berikut:

“Dan bagi Allah subhanahu wata’ala, wajib bagi manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah.” (QS Ali Imran 98).

Sementara untuk umrah hukumnya adalah sunnah. Umrah dianggap sebagai penyempurna ibadah. Seperti halnya nabi, yang melakukan ibadah umrah terlebih dahulu selama 3 kali baru ibadah haji. Namun, ada beberapa perbedaan pendapat terkait hukum umrah. Dalam mazhab Hanafi dan Maliki, umrah adalah sunnah.

Dalam hal ini, berdasar pada hadist riwayat Al Turmudzi, yaitu sebagai berikut:

“Nabi pernah ditanya mengenai umrah, Apakah umrah wajib? Beliau menjawab tidak, dan ketika kau umrah maka itu lebih baik bagimu.” (HR. al-Turmudzi).

Sedangkan, dala mazhab Syafii dan Hambali, umrah hukumnya wajib. Hal ini berdasar pada QS. Al Baqarah ayat 196 yaitu sebagai berikut:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah untuk Allah,” (QS al-Baqarah: 196).
Selain itu, terdapat pula hadist menerangkan hukum pelaksanaan umrah, yaitu hadist Sayyidah Aisyah radliyallahu anhu yaitu sebagai berikut :

“Dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anh, beliau berkata wahai Rasulullah apakah wajib bagi para perempuan untuk berjihad? Rasulullah menjawab; Ya, yaitu jihad yang tanpa adanya peperangan yakni haji dan umrah,” (HR. Ibnu Majah dan al-Bihaqi dan selainya dengan sanad-sanad yang shahih).

Waktu pelaksanaan

Perbedaan Haji dan Umrah berikutnya adalah tentang waktu pelaksanaannya. Ibadah haji memiliki waktu yang lebih terbatas dibandingkan ibadah umrah yaitu hanya bias dilakukan sekali dalam waktu satu tahun. Ibadah haji biasanya dilaksanakan antara 1 syawal hingga 13 Dzulhijjah.

Sementara untuk umrah, bias dilakukan kapan saja dan tidak terbatas kecuali pada hari tertentu seperti hari Arafah. Pada 10 Dzulhijjah, dan hari-hari tasyrik tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Sehingga, dalam satu tahun pelaksanaan haji dapat dilakukan 1 kali dengan ketentuan waktu yang telah ditetapkan sedangkan umrah dapat dilakukan berulang kali tanpa ketentuan waktu.

BACA JUGA : AMALAN YANG PAHALANYA MENGALIR TERUS

Tempat pelaksanaan

Perbedaan haji dan umrah dari segi tempat pelaksanaannya berkaitan dengan rukun dari kedua jenis ibadah ini.

Ibadah haji mewajibkan untuk semua jamaahnya melakukan rukun yang dikerjakan di luar kota Makkah seperti wukuf di Arafah, melempar jumrah di Mina, dan mabit atau menginap di Muzdalifah. Sedangkan, untuk pelaksanaan umrah dilakukan di Mekkah, lalu jamaah pergi berziarah ke Madinah.

Rukun

Perbedaan Haji dan Umrah selanjutnya bias dilihat dari seggi rukun pelaksanaannya. Rukun-rukun haji ada lima, yaitu niat ihram, wuquf di arafah, sa’I, dan memotong rambut. Sedangkan rukun umrah hanya ada empat, yaitu ihram, tawaf, sa’I, dan memotong rambut.

Kedua ibadah ini memang sekilas sama jika dilihat dari rukun pelaksanaannya, hanya saja ada satu perbedaan, yaitu wuquf di Padang Arafah yang hanya bias dilaksanakan oleh jamaah Haji saja.

Rukun dalam ibadah haji dan umrah bersifat batal bila tidak dilakukan dan tidak bias diganti dengan denda, karena rukun dalam ibadah menjadi penentu keabsahan ibadah yang dilakukan.

Kewajiban

Perbedaan haji dan umrah yang terakhir yaitu terkait kewajiban. Kewajiban haji dan umrah merupakan rangkaian ritual manasik yang ketika ditinggalkan tidak dapat membatalkan haji dan umrah, tetapi wajib diganti dengan membayar denda.

Kewajiban ibadah haji ada lima, yaitu niat ihram dari miqat (batas area yang telah ditetapkan menyesuaikan dengan asal wilayah jamaah), emnginap di Muzdalifah, menginap di Mina, Tawaf Wada’ atau perpisahan, dan melempar jumrah.

Sedangkan, kewajiban umrah hanya ada dua, yaitu niat dari miqat serta menjauhi larangan-larangan ihram.

Berapa kali Rasulullah Ibadah haji dan umrah?

Berapa kali Rasulullah Ibadah haji dan umrah?

Ibadah haji dan umrah

Ibadah haji dan umrah merupakan bentuk ibadah yang juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Terlebih lagi, ibadah haji diwajibkan bagi muslim yang mampu setelah beliau menerima perintah dari Allah SWT melalui malaikat Jibril dan menjadi salah satu rukun Islam.

Berapa kali Rasulullah SAW berhaji dan umrah setelah Islam datang?

Bila kita membahas tentang amalan haji dan umrah yang dilakukan Rasulullah SAW sebelum kenabiannya dan sebelum hijrah, jawaban pastinya tidak dapat diketahui. Sebab, beliau telah mengerjakannya berkali-kali sejak saat itu.
“Rasulullah SAW berhaji dan berumrah berkali-kali sebelum kenabian dan sebelum hijrah. Jumlahnya tidak diketahui,” tulis buku Intisari Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hazm al-Andalusi.

Namun, berbeda setelah memasuki masa kenabian dan hijrah Rasulullah SAW. Beliau telah melaksanakan ibadah haji satu kali. Haji inilah yang dikenal dengan nama haji wada’ atau haji terakhir. Sementara itu, Rasulullah SAW diyakini mengerjakan umrah sebanyak empat kali setelah kenabiannya. Meskipun masih ada perbedaan pendapat mengenai hal ini.

A. HAJI RASULULLAH SAW

Menurut jumhur ulama yang dikutip dari Historiografi Haji Indonesia oleh M. Shaleh Putuhena, perintah tentang kewajiban haji bagi Rasulullah SAW dan umatnya diterima pada 6 Hijriah atau 628 M. Untuk memenuhi perintah tersebut, Rasulullah pun bersama 1.500 pengikutnya bertolak ke Mekah pada 6 Dzulqaidah atau 8 Maret di tahun yang sama.

Namun, perjalanan pertama untuk memenuhi perintah Allah SWT ini harus berakhir gagal. Berdasarkan kesepakatan antara muslim Madinah dengan kaum musyrik di Mekah yang biasa disebut Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah dan kelompoknya baru diperkenankan mengunjungi Mekah pada tahun berikutnya selama tiga hari.

Hingga pada 10 Hijriah atau 632 M, Rasulullah SAW pun akhirnya melaksanakan ibadah haji yang dikenal dengan nama haji wada’. Dinamakan demikian karena pelaksanaannya beberapa hari sebelum wafatnya beliau.

Pada pelaksanaan haji ini, beliau telah mengerjakannya dengan manasik atau tata cara pelaksanaan ibadah haji yang ditetapkan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :

لتأخذوا عني مناسككم لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا

Artinya: “Pelajarilah dariku tata cara haji kalian, bisa jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini.” (HR Bukhari).

LIHAT JUGA : Jeddah pintu Gerbang Makah menuju Madinah

B. UMRAH RASULULLAH SAW

Ada sejumlah perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan umrah yang dilaksanakan Rasulullah SAW. Namun, menurut keterangan hadits dari Aisyah RA, Ibnu Umar, dan Anas, beliau telah empat kali melaksanakan umrah.

Keempat umrah yang dimaksud tersebut adalah umrah pada saat kaum musyrikin Mekah menghalanginya, umrah Hudaibiyah atau umrah tahun berikutnya setelah umrah pertama, umrah Dzulqa’dah, dan umrah ketika beliau melaksanakan ibadah haji.

Berikut ini bunyi salah satu sumber hadits yang menyatakan jumlah umrah Rasulullah SAW. Dari Qatadah, ia berkata, aku bertanya kepada Anas (perihal umrah Nabi Muhammad SAW) maka ia berkata:

“Nabi melaksanakan umrah sebanyak empat kali. Yaitu umrah ketika (kaum musyrikin) menghalangi beliau, umrah pada tahun berikutnya yaitu umrah Al Hudaibiyah, umrah pada bulan Dzulqa’dah, dan umrah saat beliau menunaikan haji. Telah menceritakan kepada kami Hudbah telah menceritakan kepada kami Hammam dan dia berkata:
“Beliau melaksanakan umrah sebanyak empat kali yang kesemuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang beliau laksanakan bersama hajinya. Yaitu umrah beliau dari Al Hudaibiyah, umrah pada tahun berikutnya, umrah Al Ji’ranah saat beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang) Hunain dan umrah dalam ibadah haji beliau.” (HR Bukhari).

Nah, jadi penjelasan diatas sudah menjawab pertanyaan berapa kali rasulullah SAW haji dan berumrah belum nih?

Mau Umroh Murah Sekarang?

daftar

Rukun Islam, Beserta Penjelasannya

Rukun Islam, Beserta Penjelasannya

RUKUN ISLAM

Rukun Islam berasal dari Bahasa Arab أركان الإسلام   atau Arkan al-Islam. Rukun islam berasal dari dua kata yaitu “Rukun” dan “Islam. Kata rukun sendiri merupakan kata yang digunakan oleh para ulama untuk menyebutkan sesuatu yang menjadi tiang sandaran atau tiang bangunan. Para ulama juga menyepakati bahwa rukun ini ada lima berdasarkan sudut-sudut tiang yang ada di dalam ka’bah yang berjumlah lima. Rukun juga diartikan sebagai keadaan berdampingan, berdekatan, bersanding, atau menyatu dengan bagian lain.

Sedangkan, makna kata islam berarti berserah diri untuk memperoleh keselamatan dan kedamaian. Jadi, jika ditarik kesimpulan arti dua kata tersebut, Rukun Islam ialah sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan berserah diri untuk memperoleh keselamatan dan kedamaian yang sifatnya saling berhubungan satu sama lain. Rukun Islam juga dapat diartikan sebagai lima tindakan dasar dalam islam yang menjadi syarat untuk menjadi muslim yang sempurna.

Kelima tindakan ini ialah mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan salat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan haji bagi yang mampu. Kesemua rukun-rukun itu terdapat pada hadist jibril.

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال : سمعت النبي صلَّى الله عليه وسلَّم يقول : بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ .رواه البخاري و مسلم .

Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma-, katanya, “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan’”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Di antara metode mengajar yang biasa dipraktekkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ialah membuat perumpamaan untuk sesuatu yang apstrak dengan perkara yang dapat dicerna oleh panca indra. Salah satu prakteknya terdapat dalam hadits yang tengah kita selami. Di sini beliau ﷺ mengumpamakan rukun-rukun Islam dengan pondasi bangunan yang menjadi penopang bangunan di atasnya. Muhammad bin Nashr Al-Marwazi dalam Kitab Ash-Shalah meriwayatkan hadits di atas dengan redaksi berikut, “Islam dibangun berdasarkan lima penopang…”, sebagaimana diketahui bersama, bahwa sebuah bangunan yang kokoh bermula dari pondasi kokoh yang menopang bangunan di atasnya. Semakin kokoh pondasi tersebut, bangunan pun akan semakin kokoh dan kuat pula. Sebaliknya, manakala pondasinya tidak sempurna, maka yang akan terjadi justru robohnya bangunan itu, cepat atau lambat.

Rukun-rukun Islam juga bisa diumpamakan dengan akar pohon. Ketika akar sebuah pohon mengakar kuat dan dalam ke bumi, dapatlah dijamin bagaimana kokohnya pohon yang menjulang ke atas meski sangat tinggi. Berbeda ceritanya jika akarnya tidak mengakar dalam, walaupun pohonnya tidak begitu tinggi namun jika akarnya saja tidak kokoh, tentu pohon tersebut akan mudah roboh diterjang oleh angin.

RUKUN ISLAM PERTAMA, SYAHADAT

Syahadat sendiri memiliki makna mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, lalu mengamalkannya melalui perbuatan. Jika umat muslim mengucapkannya tanpa tahu makna serta tidak mengamalkannya maka ia tidak akan mendapatkan manfaatnya sama sekali.

Bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Makna “La ilaha Illallah

Secara Harfiah, arti kata La ilaha Illallah ialah “Tiada Tuhan Selain Allah”,  tidak ada yang berhak diibadahi secara haq di bumi maupun di langit melainkan Allah semata. Dialah ilah yang haq sedang ilah (sesembahan) selain-Nya adalah batil. Sedang Ilah maknanya ma’bud (yang diibadahi).

 

RUKUN ISLAM KEDUA, SHOLAT

Sholat merupakan Rukun Islam yang kedua, yang merupakan tiang agama. Seorang muslim wajib menjaga sholatnya setelah dia menginjak usia baligh (dewasa) hingga mati. Shalat lima waktu dalam sehari semalam untuk menjadi sarana interaksi antara Allah dengan seorang muslim dimana ia bermunajat dan berdoa Kepada-Nya. Sholat juga menjadi sarana pencegah bagi umat muslim dari perbuatan keji dan munkar sehingga ia memperoleh kedamaian jiwa dan raga yang dapat membahagiakannya di dunia dan akhirat.

Allah mensyariatkan dalam shalat, suci badan, pakaian, dan tempat yang digunakan untuk shalat. Maka seorang muslim membersihkan diri dengan air suci dari semua barang najis seperti air kecil dan besar dalam rangka menyucikan badannya dari najis lahir dan hatinya dari najis batin.

Sesungguhnya Shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (An Nisa: 103)

PUASA

Puasa terbagi menjadi 2, yaitu puasa wajib dan juga puasa sunnah. Puasa wajib dilakukan pada Bulan kesembilan Hijriyah, yaitu Ramadhan.

Puasa artinya menahan diri dari segala nafsu baik itu nafsu makan, minum, amarah, serta jima’ (mendatangi istri) dari shubuh atau terbitnya matahari hingga maghrib atau tenggelamnya matahari dengan niat menghendaki ridho Allah swt. Dan beribadah Kepada-Nya.

Salah satu manfaat penting lainnya dari berpuasa menurut sudut kesehatan, ekonomi, social amat sangatlah banyak. Tidak ada yang dapat mengetahuinya selain mereka yang berpuasa atas dorongan akidah dan iman.

ZAKAT

Allah swt. Telah memerintahkan kepada barangsiapa diantara mereka yang memiliki harta dan telah mencapai nisabnya agar mengeluarkan zakat hartanya tiap tahun. Ia berikan kepada mereka yang berhak menerima zakat, baik dari kalangan fakir maupun mustahik-musahik lainnya yang berhak menerimanya.

Diantara manfaat mengeluarkan zakat ialah menghibur jiwa orang-orang fakir dan menutupi kebutuhan mereka serta menguatkan ikatan cinta antara mereka dan orang kaya.

HAJI

Rukun Islam yang terakhir alias yang kelima adalah Haji atau ziarah ke Baitullah Mekkah sekali seumur hidup. Adapun lebihnya maka merupakan sunnah. Ibadah haji juga merupakan bentuk Ibadah kepada Aallah Ta’ala dengan ruh, badan, serta harta.

Ketika Ibadah haji, umat muslim dari segala penjuru akan bertemu dan berkumpul di satu tempat dengan mengenakan pakaian yang sama dan menyembah satu robb dalam satu waktu. Tidak ada perbedaan-perbedaan baik itu perbedaan antara atasan-bawahan, kaya-miskin, kulit putih-kulit hitam.

Mereka sama-sama mengingat pada hari Allah membangkitkan mereka semuanya dan mengumpulkan mereka dalam satu tempat untuk diadakan hisab (penghitungan amal) sehingga mereka mengadakan persiapan untuk kehidupan setelah mati dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala.

 

 

 

Haji Furoda dan Himbauan Supaya Tidak Mudah Tergiur Tawarannya

Haji Furoda dan Himbauan Supaya Tidak Mudah Tergiur Tawarannya

HAJI FURODAHaji Furoda merupakan solusi pilihan bagi masyarakat Indonesia untuk langsung naik haji alias tanpa antri beberapa tahun terakhir ini jika dilihat pada beberapa wilayah atau kabupaten di Indonesia bahwa waktu tunggu antrian haji telah mencapai 40 tahun.

Melaksanakan ibadah haji sudah pasti jadi keinginan atau bahkan impian semua umat muslim baik itu di pedesaan maupun perkotaan. Bahkan keinginan untuk berhaji ini tidak mengenal batas wilayah. Meskipun, jika dilihat memang yang lebih menginginkan atau melaksanakan ibadah haji adalah orang-orang dewasa atau bahkan yang sudah berusia lanjut.

Haji Furoda ialah haji yang dilakukan secara mandiri atau non pemerintah, sehingga yang mengelola atau penyelenggaranya pun dilakukan oleh pihak travel haji dan umroh resmi atau tidak resmi (berijin), yayasan yang memiliki afiliasi dengan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dan bisa juga perorangan. Haji ini juga disebut dengan haji non kuota karena visa yang digunakan adalah visa mujamalah alias visa undangan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang diberikan kepada pemerintah Indonesia diluar kuota.

Sebetulnya, visa haji undangan kerajaan ada 2 macam, diantaranya:

  1. Visa haji furoda Undangan, yang diberikan kepada para calon jamaah secara umum seluruh negara dan visa undangan yang benar-benar khusus untuk tamu istimewa kerajaan. Haji undangan kerajaan khusus tamu istimewa, visa nya gratis. Segalanya ditanggung oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi. Namun, hanya orang-orang tertentu yang diberikan keistimewaan oleh pemerintah kerajaan yang mendapatkan visa undangan kerajaan ini.
  2. Visa Furoda Mandiri, jemaah harus membayar paket programnya seperti halnya jika kita mengikuti program Haji Reguler dan Haji Plus dengan kuota pemerintah. Jenis visa inilah yang saat ini banyak ditawarkan oleh Biro Travel resmi PIHK.

Perbedaan Haji Reguler, Haji Khusus (ONH Plus), dan Haji Furodah, adalah:

  1. Haji Reguler dan Haji Khusus ONH Plus (Haji Kuota), diurus oleh pemerintah. Kuota yang diberikan untuk haji khusus adalah sekitar 8% dari total kuota untuk Indonesia. Sedangkan haji Furoda (Haji Non Kuota) dikelola sepenuhnya oleh Travel Haji Umroh diluar kuota yang ada, tetapi tetap dalam pengawasan pemerintah.
  2. Haji Reguler mendaftar melalui pemerintah. Sedangkan, untuk paket Haji Khusus dan Paket Haji Furodah mendaftar melalui Travel Haji dan Umroh.
  3. Data Jamaah Haji Kuota ada didalam SISHOKAT Kemenag
  4. Visa Haji Kuota diterbitkan oleh Kerajaan Arab Saudi melalui pemerintah Indonesia dan bersifat ‘GRATIS’. Sedangkan Visa Haji Furoda (Non Kuota) merupakan Visa Mujamalah atau visa undangan yang diterbitkan oleh Kedutaan Arab Saudi langsung ke Travel Haji Umroh di Indonesia.

BACA JUGA: 3 MACAM HAJI YANG PERLU dIPAHAMI

Haji melalui sistim furoda ini mensyaratkan biaya yang cukup mahal sehingga rawan disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi menghimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur akan tawaran haji furoda. Sebab, Haji Furoda yang biasa juga dikenal dengan istilah “jemaah sandal jepit” tidak menggunakan visa haji melainkan visa bisnis, viasa ziarah, atau bahkan visa tenaga musiman yang berlaku hanya 30 hari.

Bahkan, Kepala Daerah Kerja Madinah, Akhmad Jauhari mengimbau bagi masyarakat Indonesia yang berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji agar mendaftar secara resmi melalui kementerian agama. Pun, jikalau mendapatkan penawaran haji, baik itu perseorangan, yayasan atau tour travel, agar memastikan bahwa tour yayasan atau tour travelnya adalah tour travel yang berizin resmi. Dan pastikan juga bahwa visa yang digunakan adalah visa haji bukan visa lainnya seperti visa bisnis, viasa ziarah, atau bahkan visa tenaga musiman yang berlaku hanya 30 hari.

Sejak 2014 silam, Pemerintah Arab Saudi gencar melakukan sweeping (pemeriksaan) serta penertiban saat puncak haji secara ketat terhadap orang-orang yang akan memasuki wilayah perhajian, Arafah Muzdalifah, dan juga Mina.

Menurutnya, pada tahun 2014 dan 2015, pernah ditemukan rombongan haji furoda yang berhaji menggunakan visa bisnis. Visanya habis dan tidak bisa diperpanjang, padahal proses haji belum dilaksanakan. Jadi, pastikan visa yang digunakan untuk masuk ke Arab Saudi adalah visa Haji.

Jauhari juga mengimbau kepada tour travel penyelenggara ibadah haji, agar jemaah haji yang diberangkatkan ke Tanah Suci selama di Arab Saudi, melengkapi identitas jemaah. Dengan mencantumkan nama jemaah, nomor paspor, nama tour travel yang memberangkatkan dan contact person travel yang memberangkatkan.

Bir Ali, Tempat Singgah Para Tamu Allah

Bir Ali, Tempat Singgah Para Tamu Allah

Bir Ali

Jamaah Haji saat ini mungkin sedang bergerak ke Mekah dari Madinah, dan akan singgah di Bir Ali. Bir Ali terletak 1 kilometer dari masjid Nabawi, Tepatnya sebelah barat lembah Aqiq. Disana, sebuah masjid berdiri, Namanya Masjid Bir Ali. Bangunan masjid bernama lain, Masjid abyar Ali itu tampak seperti benteng, Gagah.

Lokasi ini merupakan saksi bisu perjalanan haji Rasullullah Muhammad Saw. Dibawah sebuha pohon, rasulullah berteduh ditengah perjalanan dimekah. Dilokasi ini pula Ali bin Au Thalib RA menggali banyak sumur.

Menurut catatan sejarah, dilokasi ini Rasulullah melakukan Miqat dengan mengenakan kain Ihram untuk berumrah. Peristiwa inilah yang akan diikuti jemaah haji diseluruh dunia tiap tahun. Dimasjid ini juga Jamaah haji akan meniatkan diri untuk berumrah wajib dan menjalankan sholat ihrom.

Konsultan Pembimbing ibadah haji mengatakan sebelum ke Bir Ali, jamaah haji indonesia diminta untuk berihram dipemondokannya masing-masing. Sehingga, begitu tiba dimasjid Bir Ali, jemaah dapat segera melaksanakan sholat.

” Jemaah bisa melaksanakan sholat tahiyatul masjid 2 rakaat, sholat ihram dua rakaat, baru melaksanakan niat,” ujar jamaah haji diMadinah. Niat yang dia maksud ialah niat umroh untuk haji tamattu’. ” Sebagaian besar jemaah kita, melaksanakan haji tamattu’,” kata dia.

Haji tamattu’ adalah salah satu prosesi haji yang didahului umroh. Jemaah haji memakai ihram dari miqat dengan niat umroh pada musim haji. Masjid Bir Ali pertama kali dibangun di masa Gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz pada 706 hingga 712. Arsitek Masjid adalah Abdul Wahid El, membuat rancangan bangunan masjid terinspirasi masyarakat sekitar.

Sejak 1985, masjid ini dipersolek. Raja Fahd bin Abdul Aziz memperluas lokasi masjid. Tanah seluas 6.000 meter persegi dijadikan lokasi miqat. Di lokasi itu, dua set koridor terpisah teras seluas 1.000 meter persegi. Bangunan ini juga memiliki menara yang unik. Bentuknya spiral. Tingginya 64 meter.

Baca Juga : Keutamaan Umroh

Baca Juga : Paket Umrah Agustus 16 Hari

Selain area masjid berbentuk kotak, Bir Ali juga menyediakan lapangan parkir. Di musim haji, lahan itu digunakan puluhan bus singgah dan kendaraan pribadi bagi yang berhaji mandiri. Usai singgah di Masjid Bir Ali, para tamu Allah akan melanjutkan perjalanan ke Mekah. Jarak Bir Ali ke Mekah sekitar 450 kilometer.

Ditempuh dengan kendaraan, sekitar empat hingga enam jam perjalanan. Miqat merupakan salah satu rukun untuk menjalankan umroh dan haji. Selain itu terdapat pula lokasi miqat lain, di antaranya,

1. Miqat di dalam kota Mekah (untuk para mukimin atau umrah sunah): Ji’irranaa, Adni al-Hal dan Tan’eem.

2. Yalamlam terletak 84 km dari Mekah. Biasanya digunakan oleh warga Yaman.

3. Juhfah, biasanya digunakan oleh jemaah asal Mesir, Afrika Utara, Suriah, Yordania dan Libanon.

4. Wadi Aqeeq, lokasi ini berjarak 94 kilometer dari Mekah. Biasanya digunakan untuk miqat oleh warga Irak.

5. Qarn al-Manazil terletak 94 kilometer dari Mekah.

 

Bayar Zakat dan sedekah makin Mudah dengan klik zakatkita.org.

Pengaruh Ibadah Haji dalam Kehidupan

Pengaruh Ibadah Haji dalam Kehidupan

Pengaruh Ibadah Haji – Berangkat Ibadah haji memang salah satu cita-cita dan keinginan utama dari setiap kaum Muslim, apapun posisi, jabatanm pekerjaan, status sosial, kesukuan , kebangsaan , dan warna kulit adalah bisa melaksanakan ibadah haji. Andaikan tidak ada kuota dan pembatasan berdasarkan ketetapan organisasi kerja sama islam (OKI), satu persen dari jumlah penduduk setiap negara, dan juga pemerintah arab saudi, maka dari negara kita saja, dipastikan yang mau berangkat setiap tahun lebih dari 250 juta orang, Subhanallah, suatu angka yang sangat besar sekali.

Tentu kita berharap, jamaah calhaj yang mau berangkat sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, persiapan mental, materi, terlebih lagi persiapan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan (manasik haji). satu-satunya ibadah yang eksplisit (manthuq dan tersurat) ada perintah memepersiapkan bekal adalah ibadah haji.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 197, Allah SWT berfirman “Bawalah bekal karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” ketika melaksanakan ibadah haji diharapkan setiap jamaah disamping pelaksanaannya sejalan dengan ketetuan syariat, memenuhi syarat, ruku, etika, dan adab, juga dapat meresapi dan menghayati bebagai hikmah dan manfaat yang terdapat dalam berbagai segmen pelaksanaannya.

Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT dalam surah al-Haj [22] ayat 28, “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan …”Pelajaran penting dari ibadah haji tersebut, antara lain, pertama, menguatkan akidah dan keyakinan kepada Allah SWT.

Bahwa, hanya Dialah yang patut disembah dan dimintai pertolongan secara mutlak absolut. Kalimat talbiyahabbaika Allahumma labbaik adalah cerminan dari akidah yang kuat. Jika hal ini dihayati akan melahirkan fondasi kehidupan seorang Muslim yang kokoh yang termanifestasikan dalam cara berpikir dan bertindak dalam segala aspek kehidupannya sesuai dengan ketentuan-Nya.

Kedua, pakaian ihram yang hanya dua helai kain serbaputih yang menggambarkan bahwa siapa pun manusia itu kelak akan kembali kepada Allah dengan hanya dibungkus dua helai kain kafan. Anak, jabatan, dan kedudukan serta harta benda tidak akan pernah dibawa kecuali semuanya itu dijadikan sarana untuk melakukan kegiatan amal saleh. Seorang Muslim yang sudah berhaji yang sudah tahu tujuan hidupnya, pasti tidak akan tergoda dan terjerumus oleh hal-hal yang bersifat duniawi, yang sifatnya se mentara. Ia akan menjadi orang yang amanah pada setiap tugas yang diembannya dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.

Ketiga, agar kaum Muslimin khususnya jamaah haji semakin mencintai kegiatan di masjid, terutama shalat berjamaah dan muamalah dengan masyarakat sekitar. Berjamaah dalam ibadah dan muamalah akan melahirkan kasih sayang kepada sesama Muslim dan memiliki sifat tegas pada setiap bentuk kekufuran dan kemaksiatan (perhatikan QS al-Fath [48]: 28). Masjid akan menjadi tempat kembali kaum Muslimin, apa pun profesi dan keahliannya.

Keempat, agar terbangun suasana ukhuwwah Islamiyyah antara sesama orang yang beriman meskipun berbeda warna kulit, suku bangsa, dan bahasa. Semuanya larut dan menyatu dalam ketauhidan dan keimanan kepada Allah SWT (QS al-Hujurat [49]: 13). Ukhuwwah Islamiyyah yang solid akan menyebabkan kaum Muslimin tidak mudah di adu domba dan diintervensi oleh berbagai kalangan yang tidak senang dengan kemajuan dan kesejahteraan kaum Muslimin, seperti yang terjadi sekarang ini.

Berbagai isu dilontarkan di tengah kehidupan agar kaum Muslimin selalu capek dan lelah menyelesaikan pekerjaan rumah yang berasal dari orang lain.

Tugas pokok dan utama kaum Muslimin membangun kesejah teraan umat dan bangsa sering terlupakan dan terabaikan. Dan, tidak jarang pula pertentangan yang dahsyat sering terjadi antara sesama kaum Muslimin, bahkan sampai saling membunuh satu dengan yang lainnya.Kita berlindung kepada Allah dari kondisi semacam ini.

Baca Juga : Kisah Nabi Ismail dan Ibunya

Baca Juga : Makna Kain Ihram Haji dan Umrah.

Kelima, tawaf dan sa’i itu menggambarkan bahwa dalam mencapai cita-cita yang tinggi dan luhur, orang yang beriman harus terus menerus bergerak, aktif berbuat, tidak boleh berhenti, tidak boleh putus asa, dan tidak boleh malas (QS alMukminun [23]: 4). Putus asa dan frustrasi ketika menghadapi tantangan dalam menyebarkan kebaikan Islam adalah bukan watak dan karakter orang yang beriman.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surah Yusuf [12] ayat 87, “… dan janganlah kalian berputus asa dalam mendapatkan rahmat Allah. Sesung guhnya, tidak ada yang berputus asa dalam menggapai rahmat Allah kecuali orang-orang kufur (tidak beriman).”

Keenam, wukuf di Padang Arafah yang merupakan inti utama dari ibadah haji sebagaimana sabda Rasul, “Al Hajju `Arafatu”, haji itu wukuf di Arafah, adalah kegiatan yang meng gambarkan semakin makrifatnya kaum Muslimin kepada Allah SWT dan semakin memiliki ke sadaran yang tinggi untuk mempelajari dan menghayati ayatayat Allah SWT, baik yang bersifat tanziliyah(Alquran) maupun kauniyah(alam semesta).

Setelah wukuf kaum Muslimin akan semakin cerdas pikirannya dan semakin bersih hati dan jalan hidupnya. Wukuf di Arafah hakikatnya adalah purifikasi (pemurnian) jati diri kaum Muslimin pada berbagai aspek kehidupannya.

Ketujuh, melempar Jamarat di Mina hakikatnya adalah cerminan adanya godaan dan tantangan yang terus menerus yang dilakukan oleh setan (jin dan manusia) yang harus dilawan oleh kaum Muslimin dengan sepenuh hati dan sepenuh keyakinan. Sehingga, tidak ada ruang bagi setan untuk menggoda dan menghancurkan umat manusia. Setan dan segala perilaku buruk adalah musuh utama kaum Muslimin. Meskipun dalam kehidupan nyata betapa banyak umat manusia yang hanyut dalam godaan setan.

Inilah beberapa hikmah yang seharusnya menjadi perhatian jamaah haji, baik sebelum be rangkat maupun ketika melaksanakan ibadah haji. Peranan pembimbing haji, baik dari pemerintah maupun kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH)

sangat penting bagi upaya peningkatan kesadaran jamaah haji dalam menangkap esensi ibadah haji.

Mudah-mudahan semua jamaah haji dimudahkan segala urusannya oleh Allah SWT, diberikan kesehatan jasmani ruhani, dan mendapatkan haji yang mabrur dan mabrurah.

Amin. Wallahu a’lam bish shawab.

Inilah 3 macam Haji yang Perlu dipahami

Inilah 3 macam Haji yang Perlu dipahami

3 macam haji dan perbedaannya

3 Macam haji dan perbedaanya – Taukah kamu bahwa ada beberapa macam haji. Yaitu, haji Ifrad, Haji Qiran, Haji Tamattu. Tiga macam haji itu perbedaanya terletak pada waktu pelaksanaan haji dan  umrah, supaya lebih jelasnya yuk simak penjelasan berikut ini.

1. Haji Ifrad

Ifrad artinya menyendirikan. Jika memilih melaksanakan ifrad, maka seorang jemaah haji melaksanakan ibahdah haji saja dan tidak melakukan ibadah umrah. Mereka yang melaksanakan ifrad tidak dikenakan dam atau denda.

Cara Pelaksanaan Haji Ifrad: 

  1. Melaksanakan ibadah haji saja (tanpa melakukan umroh)
  2. Melakukan ibadah haji terlebih dahulu, lalu melaksanakan umrah setelah selesai haji.

Ada pula dua cara lain melakukan Haji Ifrad, yaitu:

  1. Melakukan umrah diluar bulan-bulan haji
  2. Umrah dilaukan pada bulan haji, kemudian kembali ke rumah, baru pergi lagi berhaji pada bulan haji ditahun yang sama.

Umrah pelaksanaanya adalah, ihram dari moqat untuk melaksanakan haji, kemudian berihram lagi dan mengambil miqat uuntuk melakukan ibadah umrah. Jamaah tidak membayar dam dan disunnahkan melakukan tawaf qudum. Tawaf qudum adalah tawaf pertama yang dilakukan jemaah saat sampai di Makkah.

Baca Juga : Tips Menabung untuk Umrah 

2. Haji Qiran 

Qiran memiliki makna berteman atau bersamaan. Jamaah haji yang melakukan haji qiran akan melakukan ibahdah haji dan umroh secara bersamaan. Hal ini dilakukan dengan sekali niat sekaligus untuk haji dan umrah. Namun, jamaah harus membayar dam.

Pelaksanaanya silakukan pada bulan-bulan haji. Jemaah melakukan tawaf, sa’i, dan tahallul satu kali untuk haji dan umrah. Jamaah yang memilih melakukan haji qiran akan dikenkan denda atau dam berupa menyembelih seekor kambing. Bagi mereka yang tidak mampu, jemaah harus menggantinya dengan berpuasa selama 10 ahri. Ketentuannya, 3 hari puasa dilakukan saat ini mekkah dan 7 hari puasa dilakukan ketika sudah ditanah air. Jamaah juga di sunnahkan melakukan tawaf qudum ketika tiba dimakkah.

3. Haji Tamattu

Haji tamattu merupakan haji yang paling sering dilakukan jemaah haji asal indonesia. Mereka yang mamailih haji tamattu akan melakukan Ibadah haji setelah melaksanakan umrah. Haji tamattu disebut lebih mudah dilakukan jika dibandingkan dengan dua jenis hai lainnya. Alasannya, setelah selesai tawaf dan umrah, lalu tahallul, dan bebas dari larangan saat ihram.

Sama seperti Haji Qiran, jemaah yang melakukan haji tamattu wajib membayar dam atau denda denga menyembelih1 ekor kambing. Atau, jemaah bisa menggantinya dengan puasa 10 hari.

Mana haji yang lebih disarankan?

Seperti yang diberitakan oleh Republika, Juli. Kementrian keagamaan menyarankan jemaah haji indonesia memilih jai tamattu. Haji tamattu dinilai paling sederhana dilakukan oleh jamaah. Pasalnya, jika melakukan haji tamattu, maka jamaah melakukan ibadah umrah terlebih dahulu, baru melakukan prosesi ibadah haji. Keuntungan melakukan haji tamattu, jemaah bisa kembali berpakaian biasa setelah melakuka ibadah umrah.

Sementara, jika haji qiran, maka jemaah harus mengenakan pakaian ihram hingga tiba waktunya pelaksanaan ibadah haji.

Bagaimana dengan haji ifrad? Menurut Kementerian Agama, jemaah dikhawatirkan sudah kelelahan saat umrah, karena ibadah ini dilakukan setelah selesai melakukan rangkaian ibadah haji. Sementara, rangkaian ibadah haji cukup menguras energi jemaah.

Sebenarnya, tidak ada ketentuan harus melakukan ibadah haji sekaligus umrah. Akan tetapi, menurut Kementerian Agama, kesempatan berada di Tanah Suci sebaiknya digunakan untuk ibadah haji sekaligus umrah. Dengan mengetahui jenis-jenis haji sebelum berangkat ke Tanah Suci, kita bisa lebih mempersiapkan diri dan memiliki gambaran rangkaian ibadah yang akan kita jalani.

Baca Juga : Keutamaan Sholat Dhuha

Inilah 4 Ciri-Ciri haji Mabrur

Inilah 4 Ciri-Ciri haji Mabrur

 

Seperti apakah ciri-ciri Haji Mabrur menurut islam? Mabrur dalam kamus besar bahasa indonesia adalah diterima Allah dan baik. Jadi, secara bahasa haji yang Mabrur adalah haji yang diterima baik oleh Allah SWT. Sedangkan pengertian menurut syar’i, haji mabrur merupakan haji yang melaksanakan ibadahnya sesuai petunjuk Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dengan menjalankan syarat, kewajiban, rukun serta menjauhi yang dilarang dan tidak diperkenankan.

Ganjaran atau balasan yang diberikan oleh Allah SWT kepada haji Mabrur adalah Surga. Hal tersebut sudah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah Hadits Riwayat Bukhari. Penyematan kata mabrur juga merupakan hak perogratif Allah. Akan tetapi ada tanda-tanda yang menunjukan bahwa haji akan diterima baik oleh allah atau mabrur. Berikut ini adalah ciri-ciri utama Haji Mabrur:

  • Menebarkan kedamaian kepada orang-orang disekitar

Hadits riwayat Ahmad meriwayatkan, ada salah satu sahabat Nabi yaang berkata kepada Rasulluah “Wahai rasulullah, apa itu haji mabrur?” Rasulullah pun menjawab “memberikan makanan dan menebar kedamaian”. Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa haji yang mabrur adalah memberi makanan kepada yang tidak mampu dan memberikan kedamaian kepada orang-orang disekitarnya.

  • Berbicara dengan sopan santun

Ciri haji Mabrur selanjutnya adalah berbicara dengan sopan santun. Dalam sebuah riwayat lain, Rasulullah pernah ditanya tentang ciri haji yang mabrur. Didalam hadits tersebut rasulullah menjawab “memberi makanan dan santun dalam berkata”. Bukan hanya menebar kedamaian, seorang haji Mabrur harus santun dalam berkata.

  • Mempunyai kepedulian sosial 

Dalam kedua riwayat Rasulullah sebelumnya, Nabi Muhammad telah menjawab dan menjelaskan kepada para sahabat nabi, bahwa ciri haji yang mabrur itu memberi makanan. Berdasarkan jawaban Rasulullah bahwa seorang haji mabrur haruslah memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Salah satu kepedulian tersebut ialah memberi makanan orang- orang disekitarnya.

  • Menghindari Perbuatan maksiat

Ciri haji yang terakhir ini adalah menghindari perbuatan maksiat. Dalam hadits riwayat muslim, dikisahan Nabi muhammad SAW bahwa haji mabrur adalah yang mengerjakan ibadah haji,  dan menghindari perbuatan fasats dan fusuq. Maka ia akan dikembalikan dimana saat dia dilahirkan oleh ibunya. Fasats artinya adalah perbuatan yang keji dan tidak senonoh. sedangkan fusuq memiliki makna perbuatan maksiat dan menodai keimanan. Beerdasarkan riwayat tersebut daapat disimpulkan seorang haji yang mabrur adalah mampu menghindari perbuatan yang keji dan maksiat, baik dalam pikirannya maupun perbuatannya.

Nah itulah ke-empat ciri-ciri haji mabrur yang dapat dilihat pada seseorang yang baru melaksanakan haji. Dapat dipahami secara umum, Haji mabrur sendiri adalah seseorang yang sepulang dari melaksanakan ibadah haji dan dapat menjadi pribadi yang lebih baik, baik perkataan, pemikiran dan perbuatan. Agar menjadi haji yang mabrur, anda harus melaksanakan syarat, rukun, dan kewajiban serta melaksanakan ibadah haji dengan penuh rasa khidmat dan semata-mata mengharap ridha dari Allah SWT.

Agen Travel Umroh Surabaya terpercaya dengan pembimbing terbaik, menjadikan perjalanan ibadah Anda lebih bermakna.

Nomor Izin U.491 Tahun 2021

Kontak

Head Office
Perum IKIP Gunung Anyar B48, Surabaya

Email
admin@nhumroh.com

Follow Kami :

Copyright © 2022 PT Nur Hamdalah Prima Wisata

0