Keutamaan Meninggal Saat Umroh&Haji

Keutamaan Meninggal Saat Umroh&Haji

Keutamaan Meninggal Saat Umroh&Haji – Sebagian jamaah haji ada yang berdoa agar ketika menjalani ibadah haji nanti, ia meninggal di tanah suci. Sebagian lagi ada yang mengangap bahwa meninggal di tanah suci bisa mendapatkan keutamaan mati syahid. Apakah diperbolehkan berdoa agar wafat di tanah suci Mekkah dan Madinah?

Jawabannya: Terdapat ulama yang berpendapat hukumnya sunnah berdoa meninggal di tempat yang mulia dan tanah suci Mekkah dan Madinah termasuk tanah mulia.

Salah satu dalilnya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mendapatkan keutamaan meninggal di Madinah yang merupakan tanah suci.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

“Barangsiapa yang ingin mati di Madinah, maka matilah disana. Sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi orang yang mati disana”. [HR Ahmad & Tirmidzi]

Akan tetapi meninggal di sini bukanlah meninggal yang diusahakan sendiri misalnya sengaja membuat dirinya sakit di Madinah, sengaja kecelakaan di Madinah atau malah bunuh diri di tanah suci, akan tetapi kematian yang alami sesuai dengan takdir Allah. Hendaknya ia sabar hidup di kota Madinah dengan segala cobaannya.

At-Tibiy berkata,

أمر بالموت بها وليس ذلك من استطاعته ، بل هو إلى الله تعالى ، لكنه أمر بلزومها والإقامة بها بحيث لا يفارقها

“Perintah agar meninggal di madinah bukanlah dengan usahanya sendiri, tetapi kembali kepada Allah (sesuai dengan takdir Allah). Hendaknya ia tetap bertahan tinggal di Madinah dan berusaha tidak meninggalkannya.” [Tuhfatul Ahwadzi 10/286]

Hal ini selaras juga dengan penjelasan An-Nawawi, beliau berkata,

قال العلماء وفي هذه الأحاديث المذكورة في الباب مع ما سبق وما بعدها دلالات ظاهرة على فضل سكنى المدينة والصبر على شدائدها وضيق العيش فيها وأن هذا الفضل باق مستمر إلى يوم القيامة

“Para Ulama menjelaskan bahwa hadits yang disebutkan (tentang kota Madinah) pada bab sebelumnya menunjukkan dalil yang jelas tentang keutamaan tinggal di kota Madinah dan besabar atas ujian dan kesesuhan hidup di kota Madinah. Keutamaan ini berlaku terus-menerus sampai hari kiamat.”[Syarh Shahih Muslim 9/151]

An-Nawawi juga menjelaskan disunnahkannya berdoa agar diwafatkan di tanah suci. Beliau berkata,

يستحب طلب الموت في بلد شريف

“Disunnahkan meminta kematian di tanah yang mulia/suci.” [Al-Majmu’ 5/106]

Salah satu hikmah besar meninggal di tanah suci adalah banyak orang shalih yang akan mendoakannya dan berkahnya orang- orang shalih di tanah suci tersebut, baik yang sudah meninggal maupun masih hidup.

Al-Bahuti berkata,

” يستحب أيضا الدفن في ( ما كثر فيه الصالحون ) لتناله بركتهم ، ولذلك التمس عمر الدفن عند صاحبيه ، وسأل عائشة حتى أذنت له ” انتهى

“Disunnahkan agar dikuburkan pada tempat yang banyak orang shalihnya untuk mendapatkan keberkahan mereka. Oleh karena itu Umar bin Khattab meminta agar dikuburkan bersama dua sahabatnya, ia meminta kepada ‘Aisyah kemudian diizinkan.” [Kasyfu’ Qanna’ 2/142]

Keutamaan Meninggal Saat Umroh&Haji – Apakah akan mendapatkan keutamaan mati syahid? Untuk hal ini diperlukan dalil untuk menyatakan mereka yang meninggal di tanah suci (atau sedang melakukan ibadah haji) akan mati syahid. Dalam hal ini tidak ada dalil dan nash tegas yang menyatakan demikian. Dalil yang ada adalah mengenai keutamaan orang yang meninggal ketika sedang melakukan haji dan umrah, akan mendapatkan pahalanya sampai hari kiamat. Perhatikan hadits berikut:

من خرج حاجا فمات كتب له أجر الحاج إلى يوم القيامة ومن خرج معتمرا فمات كتب له أجر المعتمر إلى يوم القيامة ومن خرج غازيا فمات كتب له أجر الغازي إلى يوم القيامة

Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, maka dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, maka ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barangsiapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat.” [HR Abu Ya’la. lihat Shahih At Targhib 1114]

Apabila jamaah haji meninggal di kota Madinah, ia akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikan hadits berikut:

لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya, atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat. Jika dia seorang muslim” [HR Muslim]

Maka dari itu segeralah menunaikan ibadah haji atau umroh jika sudah diberikan kemampuan harta dan jiwa.

Doa Mustajab saat Haji

Doa Mustajab saat Haji

Doa Mustajab saat Haji – Ketika bertanya kepada jemaah haji dan umrah tentang harapan dari pelaksanaan haji dan umrah mereka, sebagian besar jawabannya ialah menghapus segala dosa, menjadi insan yang lebih baik, dan dikabulkan segala doa serta permohonannya oleh Allah SWT. Harapan dikabulkannya doa saat haji atau umrah boleh jadi didasari pada beberapa pertimbangan, yaitu momentum yang tepat saat sedang beribadah, dan di tempat yang mustajab yang memiliki sinyal spiritual yang sangat tinggi seperti Raudhah, Multazam, Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, serta bukit Safa dan Marwah.

Surah Al-Baqarah ayat 210 menjadi doa orang yang beriman saat ibadah haji. Ayat 210 itu lengkapnya dibaca

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

‘rabbana atina fid-dunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzaban nar’

Yang artinya. “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa api neraka”

“Saudaraku, pernahkah Anda mendapati suatu kesempatan emas, saat apa yang menjadi kemauan anda dapat terwujud. Lalu apa yang akan menjadi permohonan anda Arafah.

“Tidak sedikit di antara mereka yang gugup karena tiba-tiba memiliki waktu mustajab untuk berdoa, lebih afdhal dibanding dibanding doa pada rangkaian ibadah haji lainnya,”

Doa Mustajab saat Haji – Di antara para jamaah ada yang disibukkan dengan permintaan keduniaan (al-Baqarah: 200), namun tidak demikian dengan orang yang beriman, karena mereka akan berdoa untuk kebaikan di dunia, akhirat, dan agar terhindar dari adzab neraka (al-Baqarah: 201)

Syaikh Thanthawi dalam Tafsir al-Wasith menjelaskan para ulama telah iljma’ bahwa doa ini disebut sebagai Jawami’ud Du’a (pokok dari segala doa). Masyarakat di Jawa juga mengenal doa ini sebagai ‘sapu jagat’ karena mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat.

Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa sahabat Anas bin Malik merutinkan untuk membaca doa ini di setiap memiliki hajat, hal ini beliau lakukan karena menjumpai Rasulullah melakukannya.

Doa Mustajab saat Haji – Berhaji atau umrah di tanah suci jangan lewatkan berdoa di tempat-tempat mustajab, di mana doa tidak akan ditolak Allah SWT. Seseorang disarankan hendaknya bersungguh-sungguh berdoa di tempat-tempat ini. Inilah tempat-tempat paling mustajab itu

  1. Saat Thawaf, tidak ada bacaan wajib dalam melaksanakan thawaf, tidak ada juga doa khusus yang harus dihafalkan. Jemaah juga bisa menggunakan bahasa ibu demi meraih kebahagian dunia dan akhirat.
  2. Multazam, tempat atau jarak antara sudut Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Multazam merupakan tempat paling utama. Merengeklah di sana kepada Allah SWT. Jika memungkinkan, pegang pintu Ka’bah, cucurkanlah air mata sambil memohon apapun yang kita inginkan, baik kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi.
  3. Di bawah Mizab (pancuran Ka’bah). Talang air ini terletak di arah Hijir Ismail. Pancuran ini belum ada di zaman Nabi Ibrahim as. Talang ini dibuat suku Quraisy bersamaan dengan dibuatnya atap Ka’bah. Di bagian depannya tertulis lafal Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim, sedangkan pada sisi kirinya tertulis kalimat dalam bahasa Arab yang artinya, ‘talang ini diperbaharui pelayan dua tanah suci, Fahd bin Abdul aziz Al Sa’ud, Raja Arab Saudi’. Usai berthawaf, jemaah haji atau umrah biasanya menyempatkan diri berlama-lama memanjatkan doa di sini.
  4. Di dalam Ka’bah, tentu sulit masuk ke dalam Ka’bah. Namun Rasullah SAW pernah membawa Aisyah ra ke Hijir Ismail saat Aisyah meminta izin salat di dalam Ka’bah. Saat itu, Rasullah SAW bersabda, “salatlah di sini kalau ingin salat di dalam Ka’bah, karena ini termasuk bagian dari Ka’bah”. Karena itu tidak dibenarkan seseorang berthawaf dalam area Hijir Ismail, karena Hijir Ismail merupakan bagian dari Ka’bah. Saat haji dan umrah, jemaah harus antre masuk ke dalam Hijir Ismail yang tidak terlalu luas. Usai salat sunah mutlak, mereka biasanya memuaskan diri berdoa di sini.
  5. Sumur Zamzam. Sumur ini terletak 21 meter dari lokasi Ka’bah. Dari penelitian, sumur ini menghasilkan 11-18,5 liter setiap detik. Kedalamannya mencapai 30 meter dan terbagi dalam tiga bagian, dari arah bukit Shafa, dari arah Ka’bah dan dari arah bukit. Minumlah air zamzam sambil berdoa. Ulama mengajarkan agar zamzam diminum dalam tiga kali tegukan. Tegukan pertama hendaknya berdoa agar dimantapkan iman, tegukan kedua agar dianugerahi ilmu pengetahuan, dan tegukan ketiga agar memperoleh rezeki halal yang memuaskan.
  6. Di bukit Shafa. Shafa merupakan bukit yang masuk bagian Masjidil Haram. Shafa merupakan titik awal dilaksanakannya sa’i.
  7. Di bukit Marwah. Marwah bagian bukit yang masuk Masjidil Haram. Marwah merupakan titik akhir dilaksanakannya sa’i.
  8. Saat melakukan sa’i. Sa’i adalah berjalan sebanyak 7 kali putaran antara bukit Shafa dan Marwah. Prosesnya dilakukan setelah thawaf, dimulai dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah. Tidak ada bacaan wajib. Namun disarankan berdoa sesuai kemampuan, dan beristigfar.
  9. Di belakang Maqam Ibrahim. Jika berhaji atau umrah, sesudah melaksanakan thawaf tujuh putaran dan berdoa sejenak di Multazam, umat Islam disunatkan salat di belakang maqam Ibrahim. Maqam Ibrahim sendiri lokasinya masih di dekat Ka’bah, tidak jauh dari Multazam. Secara harafiah maqam berarti tempat berdiri yang bermakna kedudukan. Riwayat-riwayat menyatakan maqam Ibrahim awalnya adalah batu yang digunakan oleh Nabi Ibrahim as untuk berdiri ketika kembali membangun Ka’bah. Di batu itu tampak jelas bekas pijakan kaki yang dipercaya sebagai jejak kaki Nabi Ibrahim as.
  10. Arafah (saat wukuf), berlangsung dari dzuhur sampai terbenamnya matahari.
  11. Muzdalifah, kawasan antara Mina dan Arafah. Lokasinya sekitar 10 km dari Mekah. Muzdalifah panjangnya kurang dari 4 km, berada pada satu wilayah sempit antara dua gunung yang berdekatan setelah Arafah.
  12. Mina, kawasan berbukit panjangnya 3-5 km, letaknya antara Mekah dan Muzdalifah. Jaraknya dari Mekah sekitar 7 km. Di Mina terdapat jamarat. 13-15. Di tempat atau setelah selesai melontar pada ketiga tempat melontar, yakni Ula, Wastha, dan Aqabah.
Hukum Mewakilkan Haji Orang yang Sudah Meninggal

Hukum Mewakilkan Haji Orang yang Sudah Meninggal

Hukum Mewakilkan Haji Orang yang Sudah Meninggal – Ibadah Haji merupakan ibadah yang sangat didambakan bagi umat Islam. Selain besarnya pahala dan hikmah yang didapatkan, ibadah Haji juga dapat menjadi penyempurna keislaman seorang muslim. Namun lamanya antrean keberangkatan Haji dan biaya yang besar bisa menjadi hambatan bagi seorang muslim untuk melaksanakan ibadah Haji. Bahkan tidak jarang banyak orang yang belum bisa menunaikan ibadah Haji sampai akhir hayatnya.

Kejadian seperti ini pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW, yang kemudian menjadi hukum baru dalam pelaksanaan ibadah Haji, yaitu Haji Badal. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. Yang artinya: “Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah bertanya, “Rasulullah! Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya?.

Rasulullah menjawab “Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi,” (H.R. Bukhari & Nasa’i).

Dari hadist tersebut bahwa hukum dari Haji Badal itu diperbolehkan, tetapi dengan syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi. Beberapa syarat tersebut seperti :

  • Orang yang digantikan hajinya merupakan orang yang mampu. Baik secara finansial maupun keadaannya. Namun karena adanya uzur seperti sakit ataupun meninggal dunia sehingga hajinya dapat digantikan.
  • Orang yang mengganti haji atau Mubdil haruslah orang yang telah melakukan ibadah Haji sebelumnya.
  • Ibadah ini dapat dilakukan oleh pria dan wanita untuk menggantikan orang lain.

Selain itu dari hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tadi, mengartikan bahwa menghajikan seseorang yang telah bernazar untuk melaksanakan haji namun tidak mampu karena telah terlebih dahulu meninggal merupakan kewajiban bagi ahli warisnya. Hal ini dihukumi seperti membayar hutang orang yang telah meninggal.

Hukum Mewakilkan Haji Orang yang Sudah Meninggal – Pada saat ini paket Haji badal sudah banyak disediakan oleh biro perjalanan Haji. Namun berbeda dengan biaya Haji pada umumnya yang mencapai puluhan juta, biaya Haji badal hanya sekitar 7-15 juta.

Murahnya harga paket Haji badal ini kemudian bisa menjadi hal yang rancu bagi orang yang berpikir sembarangan. Selain tidak perlu menunggu lama untuk melaksanakan ibadah Haji, harga yang murah tentu menjadi perbedaan jika mendaftarkan diri sendiri untuk berhaji. Maka jika ada orang yang malah menggampangkan untuk melaksanakan ibadah Haji padahal dia mampu untuk melakukannya, karena adanya Haji badal, maka hukumnya menjadi Haram dan dilarang oleh syariat agama Islam.

Namun untuk menghajikan orang yang sudah meninggal dunia ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat boleh (mubah), ada yang mengatakan tidak diperbolehkan. Mazhab Imam Syafii, berpendapat bahwa menghajikan orang yang telah meninggal hukumnya mubah alias boleh.

Dasar hukumnya adalah sebuah H.R. Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa seorang perempuan bernama Juhainah datang menghadap Nabi seraya berkata: “Sesungguhnya Ibu saya bernazar untuk melaksanakan ibadah haji. Kemudian ia meninggal dunia. Apakah saya boleh menghajikannya?” Lalu Nabi menjawab: “Ya. Laksanakan haji untuknya!”

Tetapi ada syaratnya yaitu Anda harus sudah haji untuk dirimu sendiri. Sebab orang yang belum ibadah haji untuk dirinya tidak boleh melakukan haji untuk orang lain.

Sedang menurut pendapat Mazhab Imam Maliki, menghajikan orang lain hukumnya tidak boleh. Dasar hukumnya adalah Hadis Nabi yang mengatakan bahwa apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya, kecuali tiga hal yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat untuk orang banyak, anak yang saleh yang mendoakan kedua orang tuanya. (H.R. Muslim).

Perlu anda ketahui bahwa di hadapan mahkamah akherat kelak, setiap manusia bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri-sendiri dan tidak bisa menanggung dosa orang lain.

Sebab bila ada keluarga meninggal, maka kewajiban ahli waris adalah memandikan, mengkafani, mensalatkan dan mengantar ke kubur. Melaksanakan wasiat-wasiatnya, membagi harta warisannya, melunasi semua hutang-hutangnya bila ada.

Inilah Tata Cara Umroh

Inilah Tata Cara Umroh

Inilah Tata Cara Umroh – Umroh merupakan salah satu kegiatan ibadah bagi umat Islam. Ibadah ini sering juga disebut dengan haji kecil. Di saat menunggu antrean ibadah haji yang lama karena sistem kuota yang diberlakukan, umroh pun menjadi alternatif.

Perbedaan antara umroh dan haji sendiri terletak pada waktu dan tempat pelaksanaannya. Jika ibadah haji hanya dapat dilakukan antara tanggal 1 Syawal hingga 13 Zulhijah, maka umroh dapat dilaksanakan sewaktu-waktu kecuali pada hari tertentu seperti hari Arafah pada 10 Zulhijah dan hari-hari Tasyrik tanggal 11, 12, 13 Zulhijah.

Inti dari proses ibadah haji adalah wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah selepas matahari tergelincir sampai Magrib. Sedangkan tata cara umroh intinya hanya melakukan thawaf dan sai. Keduanya didahului dengan memakai pakaian ihram di miqat (tempat) yang telah ditentukan dan diakhiri dengan tahallul (bercukur).

Inilah Tata Cara Umroh – Sebelum berniat untuk pergi umroh, sudah seharusnya mengetahui lebih dulu tata cara umroh dan bacaannya sesuai sunnah. Hal itu karena pada intinya umroh merupakan ibadah kepada Allah, maka harus dilakukan dengan benar.

Tata cara umroh dimulai dengan membaca niat dan memakai pakaian ihram dari miqat-miqat yang telah ditentukan. Miqat adalah garis start/mulai seorang jamaah yang hendak melakukan ibadah umroh.

Dengan kata lain miqat adalah tempat berihram (niat umroh) dan masuknya seseorang ke dalam pelaksanaan umroh yang akan dilakukan.

  1. Dari bandara menuju miqat Masjid Dzulhulaifah atau lebih dikenal Abyar ‘Ali.

– Miqat ini terletak di Madinah, di sini para jamaah melakukan persiapan sebelum ihram, mulai dari mandi, mengenakan pakaian ihram, berwudhu dan mengerjakan sholat sunnah ihram 2 rakaat.

– Setelah itu niat mengerjakan ibadah umroh dengan membaca bacaan niat umroh.

“Labbaikallahumma ‘umratan”

Yang artinya “Aku sambut panggilanMu ya Allah untuk menjalankan umroh”.

  1. Setelah mengenakan pakaian ihram, seorang jamaah umroh dilarang untuk melakukan hal-hal yang sudah ditentukan syariat.

Bagi pria, dilarang:

  • memakai pakaian biasa
  • memakai alas kaki yang menutupi mata kaki
  • menutup kepala dengan peci, topi, dan sebagainya

Bagi wanita, dilarang:

  • memakai kaos tangan
  • menutup mukaBagi pria dan wanita, dilarang:
  • memakai wangi-wangian
  • memotong kuku, mencukur atau mencabut rambut/bulu
  • memburu atau mematikan binatang apa pun
  • menikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi
  • bermesraan atau berhubungan intim
  • mencaci, bertengkar atau mengeluarkan kata-kata kotor
  • memotong tanaman di sekitar Mekah
  1. Menuju Masjidil Haram di Mekah.

– Dalam perjalanan, memperbanyak bacaan kalimat talbiyah yang selalu diucapkan Rasulullah SAW ketika umroh dan haji.

“Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk Laa Syarika Lak”

Artinya:”Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

– Akhir waktu membaca talbiyah untuk umroh adalah saat akan memulai thawaf.

  1. Melakukan thawaf.

– Sebelum masuk Masjidil Haram, jamaah dianjurkan berwudhu terlebih dahulu. Jamaah boleh masuk Masjidil Haram lewat pintu mana saja, tapi dianjurkan mengikuti contoh Rasulullah SAW yang masuk melalui pintu Babus Salam atau Bani Syaibah.

– Saat masuk Masjidil Haram, disarankan untuk mengucap doa “Bismillah Wash Sholatu Was Salamu ‘Ala Rasulullah. Allahummaftahli Abwaba Rahmatika”

Artinya: “Dengan nama Allah, shalawat dan salam untuk Rasulullah. Ya Allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.”

– Setelah itu turun dan terus menuju tempat thawaf (mataf). Jamaah mulai thawaf dari garis lurus (area dekat Hajar Aswad) antara pintu Kabah dan tanda lampu hijau di lantai atas Masjidil Haram.

Di sini jamaah diberi pilihan antara lain:

– Taqbil yaitu mencium Hajar Aswad

– Istilam dan Taqbil yaitu mengusap, meraba, dan mencium Hajar Aswad

– Istilam yaitu mengusap Hajar Aswad dengan tangan atau sesuatu benda yang kita pegang, kemudian benda tersebut dicium

– Melambaikan tangan atau benda yang kita pegang 3 kali, tidak dicium tapi mengucapkan Bismillah, Allahu Akbar (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar)

– Salah satu pilihan ritual ini dilakukan setiap kali melewati Hajar Aswad dan Rukun Yamani pada putaran satu sampai tujuh. Jika tidak mampu mencium Hajar Aswad dan Rukun Yamani karena alasan keamanan akibat banyaknya jamaah yang umroh, maka bisa memilih istilam dengan tangan atau benda, atau hanya melambaikan tangan atau benda yang kita pegang.

– Pada putaran 1-3 jamaah pria dianjurkan untuk lari-lari kecil. Sedangkan pada putaran 4-7 dengan jalan biasa. Sementara untuk tata cara umroh wanita tidak ada lari-lari kecil saat melakukan thawaf.

– Sepanjang thawaf, membaca doa saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Doa saat thawaf yang selalu dibaca oleh Rasulullah SAW adalah doa sapu jagad, yaitu:”Rabbana Atina Fiddunya Hasanatan Wa Fil Akhirati Hasanata Wa Qina ‘Adzabanar”

Artinya:”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Tempat Bersejarah yang dapat dikunjungi saat Umroh dan Haji

Tempat Bersejarah yang dapat dikunjungi saat Umroh dan Haji

Tempat Bersejarah yang dapat dikunjungi saat Umroh dan Haji – Madinah dan Makkah merupakan dua kota utama yang menjadi tujuan jemaah saat melakukan ibadah umrah maupun haji. Di kedua kota ini, banyak destinasi bersejarah yang biasanya dikunjungi jemaah. Tempat-tempat yang disarankan untuk dikunjungi di antaranya adalah masjid-masjid yang pernah disinggahi dan dijadikan tempat shalat Nabi Muhammad SAW. Dengan berkunjung atau berziarah ke situs bersejarah Islam, umat muslim diharapkan mengetahui pentingnya menghargai dan menghormati sejarah Agama Islam peninggalan para pendahulu.

Berikut beberapa situs bersejarah di Madinah dan Makkah yang bisa kamu kunjungi saat pergi ke Tanah Suci:

Madinah

Madinah berada di wilayah padang pasir yang subur. Nabi Muhammad SAW menjadikan Madinah sebagai tanah haram atau Tanah Suci setelah Makkah. Salah satu kelebihan kota Madinah yang disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW adalah kota ini akan menentramkan hati siapa pun yang mengunjunginya.

“Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah sebagaimana berkumpulnya ular ke sarangnya (HR. Bukhari)”.

Ini 5 situs bersejarah yang bisa dikunjungi di Madinah:

  1. Masjid Nabawi

Tempat Bersejarah yang dapat dikunjungi saat Umroh dan Haji – Masjid Nabawi didirikan pada tahun pertama Hijriyah. Dalam proses pembangunannya, Nabi Muhammad meletakkan batu pertama. Sementara, batu kedua, ketiga, keempat, dan kelima dilakukan oleh sahabat Nabi yaitu Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Saat itu, kiblat masih menghadap Baitul Maqdis, Palestina, karena belum turun perintah Allah untuk menghadap Kabah. Di lokasi sekitar masjid dibangun tempat keluarga Rasulullah SAW. Di sebelah timur Masjid Nabawi dibangun rumah Siti Aisyah yang kemudian menjadi tempat Nabi Muhammad dan kedua sahabatnya dimakamkan.

Di dalam Masjid Nabawi, ada bagian-bagian yang menjadi tujuan jemaah, di antaranya:

  1. Raudah

Raudah berada di dalam Masjid Nabawi. Letaknya ditandai dengan tiang-tiang putih yang berada di antara rumah Siti Aisyah (yang sekarang menjadi makam Rasulullah SAW) sampai mimbar masjid. Raudah menjadi tempat di mana segala doa yang dipanjatkan diyakini akan dikabulkan.

  1. Makam Nabi Muhammad SAW

Dulu, makam Rasulullah dinamakan Maqsurah. Setelah masjid diperluas, makam Nabi termasuk di dalam bangunan masjid.

Perlu diketahui, Masjid Nabawi hanya dibuka untuk jemaah pada pukul 03.00-22.00 waktu Arab Saudi. Ada waktu-waktu yang ditentukan untuk melakukan ziarah. Jemaah perempuan bisa mengunjungi Raudah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW hanya pada pukul 07.00 -10.00 dan setelah shalat Isya hingga pukul 22.00 waktu setempat. Tempat berziarah perempuan juga terpisah dengan tempat berziarah laki-laki.

  1. Masjid Quba

Quba merupakan sebuah desa di sebelah barat daya Madinah. Ketika Nabi hijrah ke Madinah, penduduk Quba adalah orang-orang pertama yang menyambut kedatangannya. Masjid Quba adalah masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW. Masjid ini dibangun di atas sebidang tanah yang dibeli Rasulullah dari Kalsum bin Hadam. Pembangunan Masjid Quba dilakukan dua kali. Pertama, ketika kiblat masjid menghadap Baitul Maqdis. Kedua, ketika kiblat menghadap Baitullah atau Kabah.

  1. Jabal Uhud

Jabal Uhud atau Bukit Uhud menjadi salah satu situs bersejarah yang dikunjungi jemaah umrah maupun haji saat berada di Madinah. Bukit ini merupakan bukit terbesar di Madinah. Letak Jabal Uhud sekitar 5 kilometer dari pusat kota Madinah. Dalam sejarahnya, di lembah Bukit Uhud pernah terjadi perang dahsyat antara 700 kaum Muslimin melawan 3.000 kaum Musyrikin Makkah. Sebanyak 70 pejuang Muslim gugur dalam pertempuran itu, termasuk paman Nabi Muhammad SAW yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib.

  1. Masjid Miqat

Masjid Miqat atau Masjid al-Muhrim merupakan masjid tempat Rasulullah SAW dan para sahabatnya mengambil miqat untuk berihram. Masjid al-Muhrim juga dikenal dengan nama Masjid Bir Ali dan menjadi destinasi wajib jemaah untuk mengambil miqat. Masjid Bir Ali berlokasi di Zul Hulaifah, sekitar 10 kilometer dari Masjid Nabawi.

  1. Masjid Qiblatain

Awalnya, Masjid Qiblatain dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah karena lokasi masjid ini berada di atas tanah bekas rumah Bani Salamah. Sebelum malaikat menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadikan Kabah di Masjidil Haram sebagai kiblat, umat Islam shalat masih menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem, Palestina. Pada tahun kedua Hijriyah, turun wahyu yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjadikan Kabah sebagai kiblat.

Ketika shalat Ashar, para sahabat Rasulullah yang tengah berjamaah di Masjid Qiblatain masih menghadap Baitul Maqdis. Di tengah berlangsungnya shalat, datang seorang sahabat yang berteriak dan menyebutkan bahwa Nabi Muhammad dan para sahabatnya di Masjid Nabawi telah beralih kiblat ke Masjidil Haram. Imam dan makmum yang tengah shalat kemudian mengubah arah kiblatnya. Inilah sejarah di balik penamaan Masjid Bani Salamah menjadi Masjid Qiblatain yang artinya masjid berkiblat dua.

Makkah

Makkah merupakan kota tempat Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Di Makkah pula ayat pertama Al Quran diturunkan. Keberadaan Kota Makkah tidak bisa terlepas dari kisah Nabi Ibrahim AS yang menempatkan keluarganya di sana setelah hijrah dari Palestina. Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim membangun Kabah.

Berikut 5 destinasi bersejarah yang biasanya dikunjungi jemaah saat berada di Makkah:

  1. Masjidil Haram dan Kabah

Masjidil Haram adalah tempat jemaah haji maupun umrah berkumpul untuk melakukan thawaf, sa’i, shalat, dan itikaf. Di dalam Masjidil Haram terdapat Kabah yang menjadi kiblat bagi umat muslim di seluruh dunia. Masjidil Haram dibangun kembali oleh Khalifah Umar bin Khattab pada 17 Hijriyah. Bangunan Masjidil Haram terdiri atas 4 lantai dengan 95 pintu masuk pada bangunan lama dan 79 pintu pada bangunan baru.

Kabah dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS setelah sempat rata dengan tanah. Letak Kabah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS berada tepat di lokasi Kabah yang dibangun oleh Nabi Adam AS.

  1. Gua Hira di Jabal Nur

Jabal Nur berlokasi sekitar 6 kilometer sebelah utara Masjidil Haram. Di puncak Jabal Nur terdapat Gua Hira. Gua Hira merupakan tempat di mana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, Surat Al Alaq ayat 1-5.

  1. Maulid Nabi

Yang dimaksud dengan Maulid Nabi adalah tempat Nabi Muhammad lahir. Kini, rumah tempat Nabi lahir telah berubah menjadi perpustakaan yang terletak di sebelah timur halaman timur Masjidil Haram. Awalnya, rumah kelahiran Nabi itu diberikan kepada putra Abu Thalib, Aqil. Kemudian, tempat ini juga sempat beralih kepemilikan dan dibangun menjadi masjid, hingga dipugar menjadi perpustakaan pada 1950 oleh Syaikh Abbas Qatthan dengan uang pribadinya.

  1. Jabal Rahmah

Menurut riwayat, setelah berpisah cukup lama, Nabi Adam AS dan Siti Hawa saling mencari dan akhirnya bertemu di puncak Jabal Rahmah, yang berada di Arafah. Di puncak Jabal Rahmah ada sebuah tugu. Tugu tersebut merupakan monumen untuk mengingatkan umat muslim akan peristiwa tersebut.

  1. Masjid Hudaibiyah

Masjid Hudaibiyah terletak di wilayah Hudaibiyah, yang berlokasi sekitar 25 kilometer dari Masjidil Haram. Kini, wilayah Hudaibiyah dikenal dengan nama daerah Al-Syumaisyi. Di daerah Hudaibiyah pernah terjadi perdamaian antara Rasulullah dengan orang-orang kafir Makkah yang terkenal dengan Perdamaian Hudaibiyah.

Itulah 10 destinasi bersejarah yang dapat kamu kunjungi ketika pergi ke Tanah Suci.

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh – Saat kita pergi umroh maupun haji, tentunya kita mengenakan kain putih yang dinamakan kain ihram. Modelnya yang menyerupai kain panjang dan diselempangkan bagi kaum adam ini digunakan sebagai pengganti pakaian ketika kita bertamu ke rumah Allah.

Sejarah pakaian ihram dikatakan berawal dari sejak zaman Nabi Ibrahim A.S, hal ini dapat dilihat dari etika berpakaian kaum zaman “Mesopotamia Purba”. Namun lebih didorong lagi dengan etika cara berpakaian masyarakat Timur Tengah dari Kalangan bangsa Arab dan Yahudi khususnya.  oleh karena itulah syari’at cara berpakaian Ihram hanyalah untuk ketika menunaikan ibadah Haji ataupun Umroh saja, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Memakai pakaian ihram dengan benar, bersih dan suci dapat mendekatkan seseorang hamba kepada Allah SWT, selain juga akan dapat menghilangkan rasa congkak dan takabur.

Kata “ihram” berasal dari bahasa Arab : أَحْرَمَ يُحْرِمُ إِحْرَامًا  yang mengandung arti menjadikan ia haram, yaitu pada saat seseorang sudah berniat takbiratul ihram maka ia sudah berniat dengan sukarela karena Allah mengharamkan apa-apa yang sebelumnya halal menjadi haram setelah takbiratul ihram.

Contohnya adalah pada saat seseorang akan menunaikan Ibadah Sholat. Makan dan minum sebelumnya itu halal untuk dilakukan. Tetapi kalau seseorang sudah memulai takbiratul ihram, maka sudah berniat dengan sukarela sepenuh hati karena Allah Ta’ala mengharamkan makan dan minum untuk dilakukannya dimana sebelum dia takbiratul ihram, itu adalah halal baginya. Ihram juga merupakan satu keadaan yang wajib dilakukan orang Islam dalam melaksanakan ibadah Haji  atau Umroh.

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh – Melakukan ibadah umroh dan haji bisa juga disebut tindakan bertamu, yakni bertamu ke rumah Allah atau yang dalam bahasa Arab disebut “baitullah”. Tahapan awal dalam melakukan ibadah haji adalah menjalankan ihram, dengan wujud niat dan memakai pakaian ihram. Secara singkat, kain ihram merupakan simbol pelepasan atribut keduniawian yang melekat pada manusia dan dianggap kembali fitrah seperti masa ia pertama kali dilahirkan. Karena semua manusia, baik pria dan wanita, dan dari manapun dia berasal, tetap terlihat sama di mata sang Pencipta.

Tiga Pesan Penting Mengenai Kain Ihram Menurut Ibnu Abbas

Ibn Abbas, salah satu sahabat yang dijuluki “lautan ilmu”, serta sosok yang dapat dikatakan mengenal Nabi Muhammad dengan baik, memiliki “renungan” tersendiri perihal pakaian ihram. Imam Abu Bakr al-Bakri dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin mengutip dari ar-Raudl al-Faiq, mengungkapkan bahwa suatu kali Ibn Abbas pernah ditanya perihal hikmah dari beberapa “perilaku” dalam ibadah haji.

Beliau lalu menyatakan “Tidak ada sedikitpun dari beberapa perilaku haji serta yang berkaitan dengannya, kecuali di dalamnya ada hikmah mendalam, nikmat yang lengkap serta cerita, sesuatu dan rahasia yang tiap mulut akan kesulitan dalam menjelaskannya”. Lalu Ibn Abbas mengungkapkan tiga hal berkaitan pakaian ihram:

Sesuaikan pakaian bergantung pada siapa kita bertamu

Kebiasaan manusia apabila mendatangi manusia lain maka pasti akan memakai pakaian paling yang paling rapih dan membanggakan. Dengan adanya keharusan ihram memakai kain putih tidak berjahit yang bertolak belakang dengan kebiasaan manusia tersebut, Allah seakan ingin memberi tahu kita bahwa tujuan untuk mendatangi tempat Allah berbeda dengan mendatangi tempat makhluk.

Kita harus bisa menyesuaikan kepada siapa kita akan bertamu, baik ke teman, tetangga, pasar, bahkan ke rumah Allah, semua ada adab nya masing-masing. Kesadaran kita untuk mendatangi Allah haruslah berbeda dengan mendatangi manusia maupun makhluk secara umum. Allah adalah sang khaliq (pencipta), sedang selain-Nya adalah makhluk (ciptaan).

Memakai pakaian yang bagus di hadapan manusia lain bisa jadi untuk menjaga wibawa atau memperoleh kenyamanan orang yang melihat. Sebab manusia adalah makhluk dengan ikatan-ikatan benda duniawi pada dirinya. Allah berbeda dengan manusia. Allah maha pencipta yang niscaya lebih kaya dari ciptaannya. “Nilai lebih” yang Allah pinta dari manusia adalah ketaqwaan yang sulit untuk dicerna dengan mata kepala.

Memakai ihram seakan suci seperti bayi baru lahir

Memakai ihram memberi makna bahwa menanggalkan segala sesuatu tatkala ihram, berarti kamu akan menanggalkan diri dari harta benda duniawi. Layaknya bayi yang keluar dari rahim ibunya tanpa memakai sehelaipun pakaian.

Hal ini menyiratkan bahwa memakai pakaian ihram adalah bentuk perilaku pemakainya dalam melepas hal-hal berbau duniawi. Di tubuhnya tidak ada sesuatu kecuali hal-hal yang digunakan untuk menutup aurat.

Memakai ihram seakan kita berada pada saat akan dihisab nanti

Keadaan memakai pakaian ihram itu menyerupai keadaan saat nanti kita hadir di tempat kelak kita dihisab oleh Allah. Seperti firman Allah berikut:

“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu kami ciptakan pada mulanya,” (Al-An’am ayat 94).

Luar biasa ya makna dibalik pakaian wajib kita ketika berkunjung ke rumah Allah. Betapa besar rahmat dan kasih sayang Allah untuk umat manusia dengan cara menyamaratakan mereka di hadapanNya. Semua manusia pada derajat yang sama bagi Allah, hanya dibedakan berdasarkan amal dan perbuatannya masing-masing.

Hotel Nyaman Saat Umrah

Hotel Nyaman Saat Umrah

Hotel Nyaman Saat Umrah – Buat sebagian jamaah umrah, hotel adalah salah satu fasilitas yang sangat diprioritaskan. Hotel menjadi salah satu fasilitas yang menunjang perjalanan. Termasuk ketika Anda melakukan perjalanan umrah di Mekah. Di Mekah, Arab Saudi ada banyak hotel mewah dengan pelayanan premium. Di antara hotel-hotel mewah tersebut ada beberapa di antaranya yang terbaik dan difavoritkan para jemaah umrah. Hotel-hotel ini tak hanya dipilih karena kualitasnya, tapi juga letaknya yang strategis sehingga memudahkan jemaah menjangkau tempat ibadah.

Hotel Nyaman Saat Umrah – Tidak hanya dari segi kenyamanan dan pemandangan Ka’bah dari kamar penginapan, letak hotel yang berdekatan dengan Masjidil Haram juga menjadi alasan utama jamaah umroh memilih hotel. Letak hotel yang berdekatan dengan Masjidil Haram tentu akan mempermudah para jamaah umroh untuk bolak-balik dari tempat penginapan ke masjid, sehingga jamaah dapat fokus beribadah dan mengurangi rasa lelah selama di Tanah Suci. Mereka menyediakan berbagai fasilitas dengan kenyamanan maksimal. Katering yang mereka sediakan pun lebih baik ketimbang hotel-hotel lainnya.

Kepada calon tamu Allah yang sedang mencari referensi hotel dengan jarak yang tidak jauh dengan Masjidil Haram dan memiliki view langsung ke Ka’bah, mari simak ulasan berikut ini.

  • Hilton Mekkah

Hotel Hilton berada di tengah kota Makkah (Mekkah). Hotel ini tidak hanya menawarkan kenyamanan bagi orang yang ingin bermalam disana, namun juga memiliki pemandangan menghadap Ka’bah serta memiliki pintu private untuk memasuki Masjidil Haram. Selain itu, Hotel Hilton juga menawarkan beragam fasilitas seperti makanan lezat, pusat kebugaran, dan pelayanan yang ramah.

Keberadaan Hotel Hilton yang berada di jantung kota Makkah (Mekkah) membuat pilihan favorite hotel para jamaah umroh.

  • Pullman Zam-zam Mekkah

Selain memiliki bangunan yang mewah, Hotel Pullman Zam-zam juga memiliki beberapa pilihan kamar yang menawarkan pemandangan ke Ka’bah. Hotel Pullman ini terletak di Abraj Al-Baiq Tower sehingga hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk sampai Masjidil Haram dengan berjalan kaki. Tidak heran jika hotel ini menjadi pilihan hotel umrah bagi yang membutuhkan kenyamanan.

Hotel Pullman Zam-zam juga memiliki salah satu tipe kamar yang lebih luas dari standar hotel pada umumnya dengan konsep yang seperti apartemen. Tipe kamar suite tersebut dilengkapi dengan dapur, lemari es dan fasilitas lainnya yang membuat nyaman seperti di rumah.

  • Swissotel Makkah

Hotel yang sudah berdiri di kota Makkah (Mekkah) sejak tahun 2012 ini menawarkan berbagai macam kemegahan. Lokasinya yang memiliki 1400 kamar ini memiliki letak yang sangat dekat dengan Masjidil Haram. Hotel Swissotel juga menyediakan berbagai macam tipe kamar yang dapat disesuaikan dengan budget tamu Allah yang ingin menginap di sana.

Hotel ini juga sengaja dibuat menghadap area Masjidil Haram, agar para tamu Allah yang menginap disana dapat melihat Ka’bah dari dalam kamarnya.

  • Mekkah Royal Clock Tower Fairmont Hotel

Pernah melihat jam besar yang berada di area Masjidil Haram? Bangunan tersebut adalah Mekkah Clock Royal Tower Fairmont Hotel. Hotel ini merupakan salah satu hotel termegah yang ada di Makkah (Mekkah), jarak antara lokasi hotel Fairmont ke Masjidil Haram hanya sekitar 50 meter.

Hotel ini memiliki 76 lantai sehingga sering disebut sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia. Selain pemandangan sebagian besar kamar yang menghadap ke Ka’bah, hotel ini juga memiliki daya tarik keindahan bangunan, interior mewah dan restoran dengan pilihan menu internasional beragam dan citarasa yang lezat. Bagi yang menginginkan kenyamanan penginapan saat beribadah umrah (umroh), hotel ini direkomendasikan menjadi salah satu pilihan terbaik.

  • Movenpick Hotel Mekkah

Pilihan hotel umroh favorit kelima adalah Hotel Movenpick Makkah (Mekkah). Hotel ini  juga memiliki tipe kamar yang memiliki pemandangan menghadap ka’bah dan juga memiliki fasilitas mall dan pertokoan. Sangat cocok untuk para tamu Allah yang mencari kemudahan dalam berbelanja dan membeli oleh-oleh untuk keluarga di Indonesia. Hotel Movenpick berlokasi di komplek Abraj Al-Baiq Tower.

Tujuan utama melakukan safar agar mendapatkan ibadah umrah yang mabrur adalah dengan melakukan rukun dan tata cara umroh secara benar. Ikhtiar mencari hotel terbaik adalah salah satu cara untuk mendapatkan kenyamanan saat ibadah umroh di Tanah Suci sehingga jamaah dapat menjaga tenaga dan memfokuskan diri melakukan rukun umrah dan ibadah lainnya selama di Tanah Suci.

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji – Ibadah haji kembali menyapa kita. Para tamu Allah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Ibadah haji tidak hanya melatih aspek ketakwaan namun dalam haji seorang muslim diuji bagaimana ketakwaan diterapkan dalam kondisi seseorang memiliki kekayaan. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menyikapi dunia dengan sikap zuhud, tidak mencintai dunia dan tidak rakus terhadap materi. Islam juga mengajarkan bagaimana seseorang berlaku ketika seseorang memiliki kekayaan duniawi.

Ibadah haji melatih segenap kemampuan manusia untuk difungsikan menerjemahkan nilai-nilai ketakwaan. Ibadah haji selain merupakan ibadah ritual yang mencakup berbagai kegiatan fisik dan spiritual, juga merupakan aktifitas ekonomi yang membutuhkan kapasitas finansial yang relatif besar. Rangkaian ibadah haji memberikan gambaran miniatur ajaran Islam yang tidak memosisikan dunia selalu berlawanan dengan akhirat. Haji memberikan gambaran praktis bagaimana dunia difungsikan sebagai tangga menuju keridhaan Allah dan jembatan menuju kehidupan akhirat.

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji – adalah ritual ibadah, yang mempunyai dampak luar biasa, baik spiritual maupun ekonomi. Dalam surat al-Hajj ayat 28 Allah menyebutkan bahwa di antara maksud dan tujuan penyelenggaraan ibadah haji adalah agar umat manusia menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka. Para ulama tafsir menyebutkan diantara manfaat yang disaksikan dalam ibadah haji adalah manfaat perniagaan yang terjadi dalam musim haji. Dari ibadah haji banyak usaha bisnis yang mendapatkan keuntungan atau keberkahan seperti dunia penerbangan, kendaraan/angkutan darat, perhotelan, makanan dan minuman, telekomunikasi, industri garmen dan tekstil untuk kain ihram, jilbab, sorban, tas, kopor dan sajadah, perbankan untuk penerimaan setoran ONH, kartu kredit, dan travel check, serta lalu lintas transfer, asuransi untuk penjaminan dan perlindungan keamanan perjalanan, kendaraan, gedung, hotel, dan jiwa jamaah, jasa kurir dan kargo untuk pengangkutan kelebihan barang serta oleh-oleh, perlengkapan kemah dan tenda untuk jutaan jamaah di Arafah dan Mina dan bisnis souvenir dengan berbagai jenis barang-barang merchandise dan elektronik yang menjadi oleh-oleh jamaah untuk keluarganya di tanah air mulai dari oleh-oleh yang kecil sampai yang besar, yang murah hingga yang mahal.

Keberkahan Ekonomi Ibadah Haji – Hal itu merupakan merupakan sebuah peluang dan tantangan tentang sejauh mana kita, bangsa Indonesia melihat potensi ekonomi dari ibadah tahunan ini. Jika dimanfaatkan dengan baik, maka musim haji bisa menjadi peluang untuk mengurangi angka pengangguran, meningkatkan perdagangan, dan meningkatkan perekonomian. Tun Musa Hitam, mantan wakil perdana menteri Malaysia mengemukakan besarnya potensi dana haji yang bisa dikelola untuk meningkatkan ekonomi. Malaysia melalui Lembaga Tabung Haji (LTH) telah berhasil melakukan hal itu dan memutarnya ke dalam berbagai sektor riil yang berperan besar dalam menggerakkan dan memajukan ekonomi negaranya. Keberhasilan Malaysia mengelola dana haji melalui Lembaga Tabung Haji (LTH) yang didirikan tahun 1963 dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah serta semua unsur yang terlibat dalam pengelolaan jamaah haji.

Dilema Pengelolaan Haji Potensi besar dana haji ini juga diperkuat dengan fakta besarnya dana dalam kasus dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan mantan Menteri Agama dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji sebesar Rp 700 miliar. Bahkan hasil audit BPKP menemukan penyimpangan yang besarnya mencapai Rp 1 triliun. Bayangkan, dengan kuota haji sekitar 200 ribu orang per tahun, juga kelebihan dana haji yang mungkin berkisar antara Rp 4 juta-Rp 5 juta per jamaah per musim haji. Tentu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya manfaat atas keuntungan penyelenggaraan haji ini kalau di manage secara benar dengan prespektif kesejahteraan umat. Padahal Malaysia saja, hanya memiliki kuota haji sebesar 2.000 orang per tahun mampu membangun sebuah lembaga Tabung Haji yang berhasil dan memberikan manfaat ekonomi yang besar. Meski bersifat komersial mirip BUMN, Tabung Haji mengedepankan sikap profesional dan amanah terhadap dana umat.

Warga yang hendak naik haji pun bisa membayar lebih murah karena bisa mengangsur antara 5 hingga 20 tahun. Saat ini biaya haji atau ONH yang dibayar jemaah asal Malaysia lebih rendah. Mereka membayar ONH 10 ribu ringgit (sekitar Rp27 juta), sedangkan jemaah asal Indonesia sekitar Rp36 juta/orang. Penipuan terhadap jemaah haji yang dilakukan pihak yang terlibat merupakan persoalan yang perlu diselesaikan bersama. Ketidakjujuran dalam pengelolaan biaya haji baik oleh oknum pemerintah atau pun swasta sangat berkaitan dengan ujian ketakwaan yang merupakan inti tujuan haji itu sendiri.

Berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaan haji mesti diperhatikan. Pertama, urusan haji telah menjadi ladang bisnis yang luar biasa besar dan menguntungkan berbagai pihak. Kedua, urusan haji telah menjadi lahan Depag yang memberi kebanggaan tersendiri, kenikmatan dan keuntungan. Ketiga, urusan haji telah melibatkan bermacam kepentingan, tidak hanya motif ibadah, tetapi juga politik dan ekonomi. Oleh karena itu, mereka yang menikmati pelaksanaan haji seperti selama ini, tidak akan rela melepaskannya begitu saja.

Maka jika ingin mengelola dan mendayagunakan potensi ekonomi haji yang luar biasa besar untuk kemajuan ekonomi bangsa, harus dengan political will dari pemimpin pemerintahan yang didukung oleh para wakil rakyat kita yang duduk di DPR. Hal penting seringkali terluputkan adalah jiwa kebersamaan dan kepedulian sosial yang ingin ditumbuhkan dalam ibadah haji. Dalam ritual-ritul haji selalu jemaah haji mengerjakan ibadah secara bersama. Dan setelah haji yang diakhiri dengan menyembelih hewan kurban juga jemaah haji diajarkan untuk mengingat sesama dengan memberikan daging kurban kepada fakir miskin dan menghadiahkannya kepada tetangga. Ibadah haji mengajarkan umat Islam untuk jauh dari sifat individualisme dan jiwa egois, sehingga kesejateraan dan kemakmuran dapat dinikmati oleh setiap umat islam dan berdampak pada keseimbangan sosial dan pemerataan ekonomi.

Kemuliaan Haji dan Umrah

Kemuliaan Haji dan Umrah

Kemuliaan Haji dan Umrah – Banyak anugerah dan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya, salah satunya adalah kenikmatan dengan diberikannya kesempatan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah yang tidak lain sedikit sekali orang yang mampu untuk melaksanakannya karena berbagai alasan. Maka panggilan haji tersebut harus kita syukuri dan kita laksanakan dengan sebaik mungkin.

Kemulian-kemuliaan orang yang melaksanakan ibadah haji banyak sekali, kemulian-kemuliaan tersebut bisa kita lihat dari hadits-hadits yang telah dikumpulkan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani didalam kitabnya yang berjudul Khosois al-Ummah al-Muhammadiyah. Berikut adalah beberapa kemulian-kemulian tersebut :

Kemuliaan Haji dan Umrah – Bagi yang telah melaksanakan ibadah haji, maka ibadah tersebut dapat melebur dosa yang telah lampau. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi : ” Amr bin al-‘Ash menceritakan “setelah Allah SWT memasukkan Islam didalam hatiku, kemudian aku datang untuk menghadap kepada Rasulullah SAW, kemudian aku berkata kepada Rasulullah SAW “ulurkanlah tangan anda wahai Rasulullah SAW, aku pasti akan membaiat anda (menyatakan sumpah setia)”, ketika beliau mengulurkan tangan beliau, tiba-tiba tanganku lemas. Kemudian beliau bertanya kepadaku “Wahai Amr bin al-Ash engkau kenapa?”, aku menjawab “aku hendak mengajukan persyaratan”, beliau pun bertanya lagi “persyaratan apa itu?”, kujawab “hendaknya aku diampuni atas segala kesalahanku”, kemudian beliau pun menjelaskan “apakah engkau tidak tahu wahai Amr bin al-‘Ash bahwa Islam mengikis habis apa saja sebelumnya?, hijrah juga mengikis habis apa saja sebelumnya?, dan ibadah haji pun mengikis habis apa saja sebelumnya?”.

Orang yang telah melaksanakan ibadah haji adalah termasuk utusan Allah SWT. Abu Hurairah RA pernah mengatakan : “Ada tiga orang yang menjadi utusan Allah SWT yaitu orang yang berangkat ke medan perang, orang yang menunaikan ibadah haji, dan orang yang berumroh”. (H.R. An-Nasa’i).

Kemuliaan Haji dan Umrah – Kemudian Ibnu Umar RA juga menuturkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “orang yang menunaikan ibadah haji dan orang yang berumroh, mereka adalah utusan Allah SWT. Jika mereka meminta sesuatu tentu akan dikabulkan oleh Allah SWT, dan jika mereka mengeluarkan harta, maka tentu mereka akan memperoleh penggantinya. Demi Allah SWT yang nyawa Abul-Qasim (Nabi Muhammad SAW) berada di tangan-Nya, siapa pun yang bertahlil dan siapa pun yang bertakbir diatas salah satu tempat suci dan mulia, berarti ia telah bertahlil dihadapan Allah SWT dan bertakbir mengagungkan kebesaran-Nya hingga berhenti di Mablaguth turob”. (Dikutip dari Tamam ar-Razi dan Ibnul Jauzi dari kitabnya masing-masing, yaitu Al-Fawaid dan Mutsirul Gharam Askin)

Orang yang telah melaksanakan ibadah haji adalah orang yang berjihad, karena disana ada perjuangan jasmani dan rohani. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yaitu “jihadnya orang besar, orang kecil, laki-laki, dan perempuan adalah menunaikan ibadah haji dan umroh”.(H.R. An-Nasa’i)

Orang yang menunaikan ibadah haji, maka segala do’anya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Ibnu Abbas RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Lima orang yang do’anya tidak akan tertolak yaitu : do’anya orang yang menunaikan ibadah haji hingga ia kembali, do’anya orang yang berada di medan perang untuk menegakkan agama Allah SWT hingga ia pulang, do’anya orang yang teraniaya hingga ia tertolong, do’anya orang yang sakit hingga ia sembuh, dan do’anya seorang saudara untuk saudaranya yang tidak hadir. Dan do’a yang paling cepat untuk dikabulkan adalah do’anya seorang saudara untuk saudaranya yang tidak hadir”.

Hadits diatas adalah hadits shahih dari hadits Sa’ad bin Jubair yang menerimanya dari Ibnu ‘Abbas RA. Oleh karena itu kita disunnahkan untuk meminta dido’akan oleh seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Karena hal itu dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Ketika Umar bin Khattab hendak berpamitan kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan umroh, dan Rasulullah SAW pun mengizinkan sahabat beliau tersebut untuk melaksanakan umroh. Kemudian beliau mengatakan kepada Umar bin Khattab “Jangan sampai anda lupa untuk mendo’akan kami, atau sertakanlah kami disetiap do’a yang anda panjatkan”. (H.R. Abu Dzar al-Harawi)

Biaya ibadah haji adalah merupakan infaq fisabilillah. Buraidah menuturkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda “Biaya ibadah haji sama dengan infaq fisabilillah, satu dirham diganti dengan tujuh ratus kali lipat’. (H.R. Syaiban dan Imam Ahmad)

Biaya yang telah dikeluarkan untuk melaksanakan ibadah haji akan mendapatkan penggantinya. Sebuah hadits menegaskan “Orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan umroh adalah utusan Allah, jika mereka meminta sesuatu maka akan dikabulkan, dan jika mereka mengeluarkan biaya, maka mereka akan memperoleh penggantinya”. (HR. Tamam ar-Razi)

Dalam sebuah hadits lain juga disebutkan “Allah SWT telah berfirman kepada malaikat-malaikat-Nya, “gantilah apa yang telah mereka (orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah) infaqkan, yaitu semua biaya yang telah dikeluarkan”.

Orang yang menunaikan ibadah haji berhak mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Abu Umamah dan Watsilah bin al-Asqa’ keduanya mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Empat perkara yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT yaitu, orang yang berangkat ke medan perang untuk menegakkan agama Allah SWT, orang yang sudah memiliki pasangan (sudah menikah),  seorang budak yang dijanjikan akan mendapatkan kemerdekaan jika budak tersebut sanggup membayar sejumlah uang kepada tuannya, dan orang yang sedang menunaikan ibadah haji dan umroh”.

Orang yang menunaikan ibadah haji akan diberikan keistimewaan untuk memberikan syafaat kepada empat ratus anggota keluarganya. Abu Musa al-Asy’ari RA menuturkan “Orang yang menunaikan ibadah haji akan diberikan keistimewaan untuk memberikan syafaat kepada empat ratus anggota keluarganya”. (Dikutip dari  Abdurrazzaq dari dalam musnadnya)

Itulah beberapa kemuliaan orang yang sedang melaksanakan ibadah haji. Semoga mereka  yang sudah melaksanakan maupun yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji diberi oleh Allah SWT gelar haji yang mabrur, dan bagi yang belum mampu menunaikannya semoga segera diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menunaikannya. Aamiin…Aamiin..Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tips Agar Tidak Tersesat di Masjidil Haram

Tips Agar Tidak Tersesat di Masjidil Haram

Agar Tidak Tersesat MasjidilHaram – Dari waktu ke waktu ada fenomena yang terus berulang: jemaah haji tersesat di Masjidil Haram. Simak tips berikut ini agar Anda atau keluarga Anda tidak nyasar di masjid suci.

1. Hafalkan pintu masuk
Ada 36 pintu masuk (dan jumlahnya terus bertambah karena ada perluasan) di Masjidil Haram. Bentuk satu pintu dan lainnya sama persis.
Jemaah harus menghafalkan pintu masuk. Dalam kondisi normal pintu masuk bisa diakses sekaligus untuk pintu keluar. Bisa dengan mengingat nama pintu maupun nomornya.
Rata-rata jemaah haji Indonesia tersesat itu karena lupa pintunya. Masuk lewat mana keluar lewat mana

2. Manfaatkan Zamzam Tower
Zamzam Tower di samping Masjidil Haram/MCH 2018
Zamzam Tower atau yang memiliki nama asli Abraj Al Bait bisa menjadi alat bantu untuk menentukan arah. Zamzam Tower yang begitu menjulang dengan tinggi 601 meter itu posisinya tepat di depan pintu King Abdul Aziz.
Saat semua pintu Masjidil Haram terlihat begitu mirip, menengok ke atas dan melihat Zamzam Tower bisa menjadi patokan arah pulang. Lebih baik sejak masuk dari awal, jemaah masuk lewat pintu King Abdul Aziz dan keluar di pintu yang sama.

3. Datangi Petugas Sektor Khusus
Selama musim haji, di Masjidil Haram terdapat petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang bekerja selama 24 jam di masjid suci tersebut. Petugas berjaga di empat titik penting yakni: zona tawaf, area antara zona tawar dan sai, bukit marwah yang merupakan tempat berakhirnya sai dan sekitaran pintu King Abdul Aziz.

Agar Tidak Tersesat MasjidilHaram – Para petugas sektor khusus ini mengenakan seragam lengkap dan rompi dengan tulisan ‘Petugas Haji Indonesia Tahun 2018.’ Petugas sektor khusus yang dilengkapi alat komunikasi ini nantinya bisa mempertemukan jemaah dengan rombongannya, mengantar ke terminal bus sholawat atau bahkan mengantar sampai ke pemondokan.

4. Pergi Berombongan
Pergi sendirian membuat potensi kesasar lebih tinggi. Dengan pergi sendirian, tidak ada teman yang bisa diajak bersama-sama mengingat rute. Pun ketika ‘harus’ nyasar, psikologis jemaah yang tersasar bersama-sama dengan teman-teman lainnya pun cenderung lebih baik ketimbang kesasar sendiri yang berpotensi tinggi menimbulkan kepanikan.

5. Bawa Sandal
Ini tips untuk kategori sangat darurat namun kerap terjadi: jemaah bisa keluar Masjidil Haram namun tidak bisa menemukan alas kakinya karena keluar tidak di pintu yang sama. Kebanyakan jemaah akan memaksakan diri untuk ke terminal bus sholawat atau ke pemondokan dengan kaki telanjang. Ini sangat berbahaya karena kaki jemaah bisa melepuh.

Oleh karena itu, jemaah diminta untuk senantiasa membawa alas kaki melekat. Bisa dengan memanfaatkan tas khusus untuk menampung sandal.

Baca juga artikel Tips membayar zakat mal: Cara Menghitung Zakat Mal yang Praktis