Paket
Fasilitas
Galeri
Chat me
Tips Menabung untuk Umroh

Tips Menabung untuk Umroh

Tips Menabung untuk Umroh – Pergi ke tanah suci tentunya jadi impian semua muslim di dunia terlepas dari latar belakangnya apa. Oleh sebab itu, banyak orang yang rela mengumpulkan uangnya untuk pergi beribadah ke sana. Nah, biar usaha menabungmu dalam pergi ke tanah suci tak berat-berat amat maka perlu langkah jitu menyiasatinya. Jangan sampai uang yang sudah dikumpulkan sejak lama, ternyata dipakai untuk kepentingan lain yang akhirnya malah bikin kita gagal ke Mekkah-Madinah. Berikut beberapa tips menabung untuk umroh :

  • Menyisihkan 20% Pendapatan

Bila ingin cepat menunaikan ibadah umroh, tentu Anda perlu berkorban lebih besar. Seperti dengan menyisihkan sebesar 20% dari pendapatan tetap khusus untuk umroh. Semisal Anda mendapatkan gaji Rp10.000.000 per bulan, maka Rp2.000.000 dialokasikan untuk ditabung umroh. Jika Anda melakukan hal ini secara rutin, maka Anda bisa dengan segera pergi umroh dalam 3 tahun. Namun bila 20% terlalu berat, Anda bisa mengaturnya sendiri sesuai kemampuan finansial. Yang jelas kebutuhan sehari-hari Anda harus diprioritaskan terlebih dahulu supaya Anda tidak merasa tertekan saat menabung untuk umroh.

 

  • Memiliki Rekening Khusus Biaya Umroh dan Haji

Menabung di rekening sendiri mungkin lebih bebas dan fleksibel. Namun bila Anda ingin lebih teratur dalam menabung untuk umroh, sebaiknya Anda membuka rekening yang khusus untuk biaya umroh dan haji. Umumnya bank yang menyediakan jenis rekening ini adalah bank syariah.

Dengan menggunakan jenis rekening tabungan khusus ini, Anda dapat menentukan jumlah dana yang ingin dicapai, kemudian besaran dana yang harus dibayarkan per bulannya, serta jangka waktu target tercapai. Sehingga Anda dapat terhindar dari kebiasaan lupa dan malas menabung.

 

Baca Juga : Tips Mengelola Keuangan untuk Haji

 

  • Pembiayaan Umroh

Ada cara lain yang bisa Anda pilih jika tidak ingin menunggu lama untuk pergi umroh. Yaitu dengan menggunakan pembiayaan umroh. Jenis pembiayaan ini memungkinkan Anda untuk pergi umroh terlebih dahulu sebelum melunasi biaya yang dibutuhkan. Dalam kata lain, pembiayaan ini juga disebut dengan kredit tanpa agunan umroh.

Atau bisa juga menabung di perusahaan travel khusus umroh juga dapat menjadi solusi. Untuk mendaftar sebagai calon jamaah, Anda perlu memberikan sejumlah DP atau uang muka. Setelahnya barulah Anda menabung untuk mengumpulkan sejumlah biaya sesuai paket yang dipilih. Cara ini dapat membantu Anda untuk lebih fokus dalam menabung. Namun perlu diingat untuk selektif dalam memilih perusahaan travel umroh yang akan Anda percayakan sebagai agen. Caranya dengan mencari tahu track record dari perusahaan atau agen tersebut secara detail. Selain itu cari tahu pula legalitas perusahaan serta kasus yang mungkin terkait dengan fasilitas menabung umroh di perusahaan tersebut.

 

  • Menghemat Pengeluaran

Jika ingin melakukan transaksi atau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang dirasa tidak begitu perlu, kamu bisa mengalokasikan uang tersebut untuk biaya umroh yang memang membutuhkan banyak dana. Kurangi pengeluaran untuk hiburan atau keperluan yang tidak mendesak. Sebagai contoh, kamu bisa mengurangi frekuensi jajan kopi setiap hari dan mulai membuat sendiri di rumah atau kantor. Dengan mengurangi kebiasaan jajan yang tidak begitu mendesak, kamu bisa mengalokasikan dana yang biasanya digunakan untuk hal-hal tersebut ke pos tabungan biaya umroh.

 

Fokus pada menabung umroh, namanya niat tak akan sampai pada tujuan tanpa dibarengi dengan usaha. Nah, langkah awal dari niat kamu dalam pergi ke tanah suci adalah dengan fokus untuk menabung. Ya, sisihkan pendapatanmu untuk ibadah yang satu ini. Kalau perlu kamu bisa bikin rekening sendiri khusus tabungan ibadah umroh. Dengan adanya tabungan khusus ini, uangmu tidak akan terpakai untuk kebutuhan lainnya. Tak perlu banyak asal rutin, sehingga kelak tabunganmu cukup buat pergi ke tanah suci.

Semua orang sejatinya bisa saja untuk pergi ke tanah suci kalau punya manajemen keuangan yang baik. Apalagi kalau dimulai sejak dini, menabung sedikit demi sedikit lama-lama akan jadi bukit. Oleh sebab itu jangan pernah berkecil hati untuk ke tanah suci. 

 

Kisah Nabi Ismail dan Ibunya

Kisah Nabi Ismail dan Ibunya

Kisah Nabi Ismail dan Ibunya – Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ingin sekali memiliki keturunan yang saleh yang beribadah kepada Allah Ta’ala dan membantu urusannya, istrinya yang bernama Sarah pun mengetahui apa yang diharapkan suaminya sedangkan dirinya mandul, maka Sarah memberikan budaknya yang bernama Hajar kepada Ibrahim agar suaminya memiliki anak darinya.

Selanjutnya, Hajar pun hamil dan melahirkan Nabi Ismail yang akan menjadi seorang nabi. Setelah beberapa waktu dari kelahiran Ismail, Allah Ta’ala memerintahkan Ibrahim pergi membawa Hajar dan Ismail ke Makkah, maka Nabi Ibrahim memenuhi perintah itu dan ia pun pergi membawa keduanya ke Makkah di dekat tempat yang nantinya akan dibangunkan Kabah.

Tidak lama setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tersebut dan ingin kembali ke Syam. Ketika Hajar melihat Nabi Ibrahim pulang, maka Hajar segera mengejarnya dan memegang bajunya sambil berkata, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?” Hajar terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semua ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Pelajaran :

Ini tanda jadi seorang istri itu patuh pada suami.

  1. Istri yang salehah, taat pada suami selama perintah itu tidak melanggar perintah Allah.
  2. Istri tidak membangkang kepada keputusan suami apalagi dalam hal yang diperintahkan oleh Allah.
  3. Istri yang baik adalah yang punya sifat tawakkal dan berserah diri kepada Allah. Siapa yang tawakkal kepada Allah tak mungkin disia-siakan.

 

Kemudian Hajar kembali dan Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan mereka tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Kabah lalu berdoa untuk mereka dengan mengangkat kedua belah tangannya, dalam doanya ia berkata,

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

 

Pelajaran :

Inilah yang jadi tuntunan ketika berdoa, umat muslim diajarkan menghadap kiblat. Dan anjuran ini disepakati oleh para ulama sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,

“Kaum muslimin sepakat bahwa kiblat yang disyariatkan seseorang berdoa yaitu arah yang ia hadap ketika berdoa adalah kiblat yang disyariatkan ketika seseorang itu melakukan shalat.” (Naqdh At-Ta’sis, 2:452)

Kemudian Hajar mulai menyusui Ismail dan minum dari air persediaan. Hingga ketika air yang ada pada geriba (wadah kulit) habis, ia menjadi haus, begitu juga anaknya. Lalu ia memandang kepada Ismail sang bayi yang sedang meronta-ronta, kemudian Hajar pergi meninggalkan Ismail dan tidak kuat melihat keadaannya.

Maka dia mendatangi bukit Shafa sebagai gunung yang paling dekat keberadaannya dengannya. Dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana namun dia tidak melihat seorang pun. Maka dia turun dari bukit Shafa dan ketika sampai di lembah, dia menyingsingkan ujung pakaiannya lalu berusaha keras layaknya seorang manusia yang berjuang keras, hingga ketika dia dapat melewati lembah dan sampai di bukit Marwah lalu berdiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana namun dia tidak melihat ada seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafa dan Marwah).

 

Pelajaran :

Inilah yang jadi asal adanya syariat sa’i. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

“Dari sinilah orang-orang melakukan sa’i antara keduanya (Shafa dan Marwah).” (HR. Bukhari, no. 3364 dan 3365)

Dalam ayat disebutkan,

۞ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ

“Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

Saat dia berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara, lalu dia berkata dalam hatinya “diamlah” yang Hajar maksud adalah dirinya sendiri. Kemudian dia berusaha mendengarkannya maka dia dapat mendengar suara itu lagi, maka dia berkata, “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud memberikan bantuan.” Ternyata suara itu adalah suara malaikat yang berada di dekat air Zam-zam, lantas malaikat tersebut mengais air dengan tumitnya–atau sayapnya–hingga air keluar memancar.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati Ummu Isma’il (ibunya Ismail), seandainya saja ia membiarkan zamzam, atau seandainya ia tidak menggayung, maka air zamzam akan mengalir terus.” (HR. Bukhari, no. 3364 dan 3365)

Akhirnya Hajar dapat minum air dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat berkata kepadanya,

“Janganlah kamu takut diterlantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

 

Baca Juga : Nabi Muhammad Mengerjakan Umroh sebelum Haji

Hajar terus melalui hidup seperti itu hingga kemudian lewat serombongan orang dari suku Jurhum atau keluarga Jurhum yang datang dari jalur bukit Kadaa’ lalu singgah di bagian bawah Makkah kemudian mereka melihat ada seekor burung sedang terbang berputar-putar. Mereka berkata, “Burung ini pasti berputar karena mengelilingi air padahal kita mengetahui secara pasti bahwa di lembah ini tidak ada air.” Akhirnya mereka mengutus satu atau dua orang yang larinya cepat dan ternyata mereka menemukan ada air. Mereka kembali dan mengabarkan keberadaan air lalu mereka mendatangi air. Saat itu Hajar sedang berada di dekat air. Maka mereka berkata kepada Hajar, “Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di sini?” Ibu Ismail berkata, “Ya boleh, tapi kalian tidak berhak memiliki air.” Mereka berkata, “Baiklah.”

Ibu Ismail menjadi senang atas peristiwa ini karena ada orang-orang yang tinggal bersamanya. Akhirnya mereka pun tinggal di sana dan mengirim utusan kepada keluarga mereka untuk mengajak mereka tinggal bersama-sama di sana. Ketika itu, Nabi Ismail belajar bahasa Arab dari mereka (suku Jurhum), dan Hajar mendidik putranya dengan pendidikan yang baik serta menanamkan akhlak mulia sampai Ismail agak dewasa dan sudah mampu berusaha bersama ayahnya; Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim berkunjung menemui Hajar dan anaknya untuk menghilangkan rasa kangennya kepadanya. Maka pada suatu hari, saat Nabi Ibrahim telah bersama anaknya, ia (Ibrahim) bermimpi bahwa dirinya menyembelih putranya, yaitu Ismail ‘alaihissalam. Setelah ia bangun dari tidurnya, Ibrahim pun mengetahui bahwa mimpinya itu adalah perintah dari Allah Ta’ala karena mimpi para nabi adalah hak (benar), maka Nabi Ibrahim mendatangi anaknya dan berbicara berdua bersamanya. Ibrahim berkata,

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaaffaat: 102)

Nabi Ibrahim membawa anaknya ke Mina, lalu ia taruh kain di atas muka anaknya agar ia (Ibrahim) tidak melihat muka anaknya yang dapat membuatnya terharu, sedangkan Nabi Ismail telah siap menerima keputusan Allah. Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan anaknya di atas pelipisnya dan keduanya telah menampakkan rasa pasrahnya kepada Allah Ta’ala, maka Ibrahim mendengar seruan Allah Ta’ala,

“Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash Shaafffat: 104-106)

Tidak lama setelah ada seruan itu, Nabi Ibrahim melihat malaikat Jibril dengan membawa kambing yang besar. Maka Nabi Ibrahim mengambilnya dan menyembelihnya sebagai ganti dari Ismail. Dari sinilah asal permulaan sunah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia.

 

Pelajaran penting dari kisah ini :

  • Rasa yakin dan pasrah kepada Allah akan mengangkat berbagai masalah.

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

  • Orang tua dianjurkan menghadapi anak tidak dengan kemarahan dan emosi, mesti dengan kesabaran.
  • Anak-anak yang sukses bukanlah dibesarkan oleh orang tua yang hebat ataupun cerdas melainkan oleh orang tua―terutama ibu―yang penuh cinta dan tulus dalam mendidik anak-anaknya. Lihatlah sebagian besar orang sukses terlahir dari keluarga yatim. Ini mungkin karena anak-anak tumbuh dalam suasana penuh cinta dan tidak pernah melihat kedua orang tua mereka bertengkar.

 

 

 

 

 

Keutamaan Sholat Dhuha

Keutamaan Sholat Dhuha

Keutamaan Sholat Dhuha – Banyak yang belum memahami keutamaan sholat dhuha ini. Ternyata sholat Dhuha bisa senilai dengan sedekah dengan seluruh persendian. Sholat tersebut juga akan memudahkan urusan kita hingga akhir siang. Ditambah lagi shalat tersebut bisa menyamai pahala haji dan umrah yang sempurna. Juga sholat Dhuha termasuk sholat orang-orang yang kembali taat.

Di antara keutamaan sholat Dhuha adalah:

Pertama: Mengganti sedekah dengan seluruh persendian

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR. Muslim no.  720).

Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. Namun sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan sholat Dhuha sebagaimana disebutkan pula dalam hadits dari Abu Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

 

Kedua: Akan dicukupi urusan di akhir siang

Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa sholat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa sholat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, 4: 118)

At Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau sholat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).

Baca Juga : Tips Mengelola Keuangan untuk Haji

Ketiga: Mendapat pahala haji dan umrah yang sempurna

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Al Mubaarakfuri rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi (3: 158) menjelaskan, “Yang dimaksud ‘kemudian ia melaksanakan sholat dua raka’at’ yaitu setelah matahari terbit. Ath Thibiy berkata, “Yaitu kemudian ia melaksanakan sholat setelah matahari meninggi setinggi tombak, sehingga keluarlah waktu terlarang untuk sholat. Sholat ini disebut pula shalat Isyroq. Sholat tersebut adalah waktu sholat di awal waktu.”

 

Keempat: Termasuk shalat awwabin (orang yang kembali taat)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 1: 164). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).

 

Nah, itulah penjelasan singkat tentang keutamaan sholat dhuha. Semoga kita termasuk hamba Allah yang istiqomah melaksanakan ibadah sunnah seperti sholat dhuha ini.

 

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat – Hari Jumat bagi umat Islam merupakan hari paling istimewa dan banyak keberkahan di dalamnya. Karena itu, sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah. Salah satunya membaca Surat Al Kahfi tiap Jumat.  Membaca Surat Al Kahfi bisa dilakukan pada malam Jumat atau Hari Jumat. Rasululullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan sejumlah sahabatnya menyebutkan sejumlah keutamaan bagi orang yang membaca Surat Al Kahfi tiap Jumat.

  1. Menghindarkan diri dari fitnah Dajjal

Keutamaan Membaca Al-Kahfi di Hari Jumat – Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang membaca Al Kahfi pada hari Jumat, maka akan memancarkan cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan menerangkannya kelak pada hari kiamat dan diampuni dosanya antara dua Jumat. (HR. Abu Bakr bin Mardawalh.)

  1. Diampuni dosa-dosanya

Imam Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Umar,” Barang siapa membaca surah Al Kahfi pada hari jum’at maka akan ada cahaya yang menyinari dari telapak kakinya hingga langit yang akan menyinarinya kelak pada hari kiamat. Dan dosanya akan diampuni di antara dua Jumat.”

  1. Rumahnya tidak akan dimasuki setan

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal,” Rumah yang dibacakan di dalamnya surah Al Kahfi atau Al Baqarah tidak akan dimasuki setan sepanjang malam itu.”

  1. Dipancarkan cahaya sejauh dirinya dan Ka’bah

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa membaca surah Al Kahfi pada malam jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dan Baitul ‘Atiq (Ka’bah).” (Suran Ad-Darami, no. 3273).

  1. Dipancarkan cahaya diantara dua Jumat

Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri ra,”Barangsiapa membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumat.”

  1. Dijaga doa di antara dua Jumat

Abdullah bin Umar ra berkata; Rasulullah bersabda,”Siapa yang membaca surah Al Kahfi pada hari jum’at maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit akan meneranginya kelak pada hari kiamat dan diampuni dosanya antara dua Jumat.”

  1. Disinari di hari kiamat

Imam Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Umar,”Barangsiapa membaca surah Al Kahfi pada hari jum’at maka akan ada cahaya yang menyinari dari telapak kakinya hingga langit yang akan menyinarinya kelak di hari kiamat.”

Dari surat Al Kahfi ini, kita bisa tahu bahwa segala sesuatu harus dilandaskan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dengan begitu, semua hal yang kita lakukan akan senantiasa diberkahi dan diridhoi oleh Allah.

Bagaimana pun, membaca surat Al Kahfi ini punya banyak sekali hikmah dan keutamaan yang menyertai. Untuk itu, mulai biasakan membaca Al Kahfi pada hari Jum’at, malam Jum’at atau hari lainnya agar memproleh semua keutamannya.

 

Memaknai Definisi Haji Mabrur

Memaknai Definisi Haji Mabrur

Memaknai Definisi Haji Mabrur – Setiap Muslim pasti memiliki cita-cita untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. Seperti yang kita ketahui, ibadah haji hukumnya wajib bagi Muslim yang mampu.

Cita-cita berhaji bukan sekadar terdorong karena keinginan untuk melakukan ibadah di depan Ka’bah secara langsung. Lebih dari itu, setiap Muslim yang berangkat haji berharap bisa meraih haji mabrur.

Definisi Haji Mabrur

Memaknai Definisi Haji Mabrur – Rasulullah SAW menjelaskan, Allah SWT telah menjanjikan balasan nyata bagi mereka yang mendapat Mabrur, yakni surga yang abadi: “Umrah ke umrah berikutnya merupakan pelebur dosa antara keduanya. Dan, tiada balasan bagi haji mabrur, melainkan surga” (HR Bukhari: 1683, Muslim: 1349). Dari riwayat tersebut, dapat dipahami ganjaran untuk haji mabrur adalah surga, tempat terbaik di Akhirat.

Mabrur berasal dari bahasa Arab, yaitu “barra-yaburru-barran”, yang artinya taat berbakti. Dalam kamus Al Munawwir Arab-Indonesia, Mabrur berarti ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT.

Para alim ulama memiliki beberapa pendapat tentang makna mabrur. Beberapa ulama menilai Haji Mabrur adalah pahala yang diterima di sisi Allah. Imam Nawari dalam syarah Muslim menjelaskan, haji mabrur tidak tercampuri oleh kemaksiatan atau dosa karena imbalannya adalah surga Allah. Imam Nawari juga menjelaskan bahwa haji mabrur juga diartikan sebagai haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah dan tidak ada kesombongan di dalamnya. Selain itu, haji mabrur dapat merujuk kepada kondisi tanpa dosa yang diambil dari akar kata al-birr, yang berarti kebaikan atau ketaatan.

Namun, ketika seseorang masih berada di dunia, ada tanda-tanda bahwa hajinya mabrur atau tidak. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?” Nabi Muhammad menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian” (H.R. Ahmad) Sementara itu, dalam riwayat lain, disebutkan, Rasulullah ditanyai tentang ciri-ciri haji mabrur. Ia kemudian berkata, “Memberikan makanan dan santun dalam berkata.” Dalam kesempatan berbeda, Nabi Muhammad juga bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan haji sedangkan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali dalam keadaan [seperti] saat dilahirkan ibunya” (H.R. Muslim). Rafats dapat dipahami sebagai tindakan keji atau tidak senonoh, termasuk bersetubuh atau bercumbu sedangkan fusuq adalah perbuatan maksiat, yang dapat menodai akidah dan keimanan seseorang kepada Allah.

Melihat riwayat-riwayat di atas, dapat disimpulkan beberapa ciri utama haji mabrur adalah. Memberikan kedamaian untuk orang-orang di sekelilingnya. Santun dalam berbicara Memiliki kepedulian sosial, yang ditandai dengan salah satunya, memberikan makanan kepada yang membutuhkan. Menghindari hal-hal yang tidak senonoh dan maksiat atau dalam kata lain, membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Secara umum, ciri haji mabrur adalah jika seseorang, sepulang dari ibadah haji, mampu lebih baik dalam segala hal, baik dalam hubungan dengan makhluk maupun dengan Allah. Hasan al-Bashri menyebut, seorang haji mabrur akan terlihat dari sikap zuhudnya terhadap dunia, terlepas ada atau tidaknya hal-hal duniawi yang melekatinya, dan terlihat pula kecintaannya terhadap Akhirat. Ia menambahkan, “Tanda (mabrurnya) adalah meninggalkan perbuatan buruk yang dilakukan sebelum berhaji.” Adapun bacaan doa menjadi haji mabrur adalah seperti di bawah ini. اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا Artinya, “Semoga Allah menganugerahkan haji yang mabrur, usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni.”

Haji mabrur adalah haji yang maqbul atau diterima dan diberi balasan berupa al-birr yang berarti kebaikan atau pahala. Menurut Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Syarhus Suyuthi li Sunan an-Nasa’i, salah satu bukti bahwa seseorang telah berhasil meraih haji mabrur adalah ketika ia kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan terus berusaha mengurangi perbuatan maksiat.

Bagaimana supaya kita bisa meraih haji mabrur? Pertama, luruskan niat beribadah. Tunaikan ibadah haji sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah agama dan memenuhi Rukun Islam kelima. Dengan meluruskan niat, kamu dapat menjaga kemurnian tujuan berhaji. Jauhkan pikiran dari hasrat untuk menaikkan status sosial atau sekadar pamer kesalehan.

Kedua, memahami filosofi di balik rukun haji dan wajib haji. Selain itu, kuasai bacaan-bacaan doa dalam tahapan-tahapan ibadah haji. Ini bisa membantu kamu lebih khusyu’ ketika beribadah kelak di Tanah Suci.

Ketiga, fokus pada hal yang substantif selama berhaji. Selama di Tanah Suci, fokuskan pikiran dan energi untuk melakukan rukun haji dan wajib haji secara khusyu’. Ada 6 rukun haji yaitu ihram (niat), wukuf di Arafah, thawaf ifadah, sa’i, bercukur (tahalul) dan tertib. Apabila tidak melaksanakan salah satunya, maka ibadah haji tak sah.

Selain itu ada juga 6 wajib haji yaitu ihram haji dari mīqāt, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram, dan thawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah. Di Tanah Suci kamu mungkin akan banyak menemui cobaan. Berusahalah untuk selalu tenang dan berkepala dingin agar bisa fokus pada yang hal utama, yaitu rukun dan wajib haji.

 

9 Keutamaan Hari Jumat

9 Keutamaan Hari Jumat

9 Keutamaan Hari Jumat – Hari Jumat bagi umat muslim merupakan hari yang mempunyai banyak keutamaan-keutamaan. Maka tidak heran jika hari Jumat menjadi hari yang sangat istimewa dalam Islam.

Keistimewaan hari Jumat menurut ajaran Islam bisa Anda ketahui melalui 9 poin di bawah ini:

  1. Hari terbaik

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabada: “Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.”

  1. Terdapat waktu mustajab untuk berdoa

Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu,” (HR. Muttafaqu Alaih).

9 Keutamaan Hari Jumat -Ibnu Qayyim Al Jauziah setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu mengatakan: “Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi,” (Zadul Ma’ad Jilid I/389-390).

  1. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya

Ibnu Qayyim berkata: “Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.” Hadits dari Ka’ab menjelaskan: “Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya,” (Mauquf Shahih).

  1. Hari tatkala Allah menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di surga

Sahabat Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya,” (QS. 50: 35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”

  1. Hari besar yang berulang setiap pekan

Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi umat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jumat hendaklah mandi terlebih dahulu.” (HR. Ibnu Majah).

  1. Hari dihapuskannya dosa-dosa

Salman Al Farisi berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jumat,” (HR. Bukhari).

  1. Orang yang berjalan untuk shalat Jumat akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa

Aus bin Aus berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mandi pada hari Jumat, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah,” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

  1. Wafat pada malam hari Jumat atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur

Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap muslim yang mati pada siang hari Jumat atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur,” (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).

  1. Hari paling utama di dunia

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW berkata, “Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari Jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya,” (HR. Muslim). Allahu A’lam.

 

Agen Travel Umroh Surabaya terpercaya dengan pembimbing terbaik, menjadikan perjalanan ibadah Anda lebih bermakna.

Nomor Izin U.491 Tahun 2021

Kontak

Head Office
Perum IKIP Gunung Anyar B48, Surabaya

Email
admin@nhumroh.com

Follow Kami :

Copyright © 2022 PT Nur Hamdalah Prima Wisata

0