Paket
Fasilitas
Galeri
Chat me

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh – Saat kita pergi umroh maupun haji, tentunya kita mengenakan kain putih yang dinamakan kain ihram. Modelnya yang menyerupai kain panjang dan diselempangkan bagi kaum adam ini digunakan sebagai pengganti pakaian ketika kita bertamu ke rumah Allah.

Sejarah pakaian ihram dikatakan berawal dari sejak zaman Nabi Ibrahim A.S, hal ini dapat dilihat dari etika berpakaian kaum zaman “Mesopotamia Purba”. Namun lebih didorong lagi dengan etika cara berpakaian masyarakat Timur Tengah dari Kalangan bangsa Arab dan Yahudi khususnya.  oleh karena itulah syari’at cara berpakaian Ihram hanyalah untuk ketika menunaikan ibadah Haji ataupun Umroh saja, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Memakai pakaian ihram dengan benar, bersih dan suci dapat mendekatkan seseorang hamba kepada Allah SWT, selain juga akan dapat menghilangkan rasa congkak dan takabur.

Kata “ihram” berasal dari bahasa Arab : أَحْرَمَ يُحْرِمُ إِحْرَامًا  yang mengandung arti menjadikan ia haram, yaitu pada saat seseorang sudah berniat takbiratul ihram maka ia sudah berniat dengan sukarela karena Allah mengharamkan apa-apa yang sebelumnya halal menjadi haram setelah takbiratul ihram.

Contohnya adalah pada saat seseorang akan menunaikan Ibadah Sholat. Makan dan minum sebelumnya itu halal untuk dilakukan. Tetapi kalau seseorang sudah memulai takbiratul ihram, maka sudah berniat dengan sukarela sepenuh hati karena Allah Ta’ala mengharamkan makan dan minum untuk dilakukannya dimana sebelum dia takbiratul ihram, itu adalah halal baginya. Ihram juga merupakan satu keadaan yang wajib dilakukan orang Islam dalam melaksanakan ibadah Haji  atau Umroh.

Makna Kain Ihram Haji dan Umroh – Melakukan ibadah umroh dan haji bisa juga disebut tindakan bertamu, yakni bertamu ke rumah Allah atau yang dalam bahasa Arab disebut “baitullah”. Tahapan awal dalam melakukan ibadah haji adalah menjalankan ihram, dengan wujud niat dan memakai pakaian ihram. Secara singkat, kain ihram merupakan simbol pelepasan atribut keduniawian yang melekat pada manusia dan dianggap kembali fitrah seperti masa ia pertama kali dilahirkan. Karena semua manusia, baik pria dan wanita, dan dari manapun dia berasal, tetap terlihat sama di mata sang Pencipta.

Tiga Pesan Penting Mengenai Kain Ihram Menurut Ibnu Abbas

Ibn Abbas, salah satu sahabat yang dijuluki “lautan ilmu”, serta sosok yang dapat dikatakan mengenal Nabi Muhammad dengan baik, memiliki “renungan” tersendiri perihal pakaian ihram. Imam Abu Bakr al-Bakri dalam Hasyiyah I’anatut Thalibin mengutip dari ar-Raudl al-Faiq, mengungkapkan bahwa suatu kali Ibn Abbas pernah ditanya perihal hikmah dari beberapa “perilaku” dalam ibadah haji.

Beliau lalu menyatakan “Tidak ada sedikitpun dari beberapa perilaku haji serta yang berkaitan dengannya, kecuali di dalamnya ada hikmah mendalam, nikmat yang lengkap serta cerita, sesuatu dan rahasia yang tiap mulut akan kesulitan dalam menjelaskannya”. Lalu Ibn Abbas mengungkapkan tiga hal berkaitan pakaian ihram:

Sesuaikan pakaian bergantung pada siapa kita bertamu

Kebiasaan manusia apabila mendatangi manusia lain maka pasti akan memakai pakaian paling yang paling rapih dan membanggakan. Dengan adanya keharusan ihram memakai kain putih tidak berjahit yang bertolak belakang dengan kebiasaan manusia tersebut, Allah seakan ingin memberi tahu kita bahwa tujuan untuk mendatangi tempat Allah berbeda dengan mendatangi tempat makhluk.

Kita harus bisa menyesuaikan kepada siapa kita akan bertamu, baik ke teman, tetangga, pasar, bahkan ke rumah Allah, semua ada adab nya masing-masing. Kesadaran kita untuk mendatangi Allah haruslah berbeda dengan mendatangi manusia maupun makhluk secara umum. Allah adalah sang khaliq (pencipta), sedang selain-Nya adalah makhluk (ciptaan).

Memakai pakaian yang bagus di hadapan manusia lain bisa jadi untuk menjaga wibawa atau memperoleh kenyamanan orang yang melihat. Sebab manusia adalah makhluk dengan ikatan-ikatan benda duniawi pada dirinya. Allah berbeda dengan manusia. Allah maha pencipta yang niscaya lebih kaya dari ciptaannya. “Nilai lebih” yang Allah pinta dari manusia adalah ketaqwaan yang sulit untuk dicerna dengan mata kepala.

Memakai ihram seakan suci seperti bayi baru lahir

Memakai ihram memberi makna bahwa menanggalkan segala sesuatu tatkala ihram, berarti kamu akan menanggalkan diri dari harta benda duniawi. Layaknya bayi yang keluar dari rahim ibunya tanpa memakai sehelaipun pakaian.

Hal ini menyiratkan bahwa memakai pakaian ihram adalah bentuk perilaku pemakainya dalam melepas hal-hal berbau duniawi. Di tubuhnya tidak ada sesuatu kecuali hal-hal yang digunakan untuk menutup aurat.

Memakai ihram seakan kita berada pada saat akan dihisab nanti

Keadaan memakai pakaian ihram itu menyerupai keadaan saat nanti kita hadir di tempat kelak kita dihisab oleh Allah. Seperti firman Allah berikut:

“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu kami ciptakan pada mulanya,” (Al-An’am ayat 94).

Luar biasa ya makna dibalik pakaian wajib kita ketika berkunjung ke rumah Allah. Betapa besar rahmat dan kasih sayang Allah untuk umat manusia dengan cara menyamaratakan mereka di hadapanNya. Semua manusia pada derajat yang sama bagi Allah, hanya dibedakan berdasarkan amal dan perbuatannya masing-masing.

Agen Travel Umroh Surabaya terpercaya dengan pembimbing terbaik, menjadikan perjalanan ibadah Anda lebih bermakna.

Nomor Izin U.491 Tahun 2021

Kontak

Head Office
Perum IKIP Gunung Anyar B48, Surabaya

Email
admin@nhumroh.com

Follow Kami :

Copyright © 2022 PT Nur Hamdalah Prima Wisata

0