Sejarah Haji Dan Umroh Di Zaman Rasulullah

Sejarah Haji Dan Umroh Di Zaman Rasulullah-

Sebagai kaum muslim, sangat penting bagi kita untuk mengetahui kisah umroh dan haji Nabi Muhammad SAW. Haji dan umroh sendiri merupakan dua ibadah yang sangat penting bagi umat muslim di seluruh dunia. Pelaksanaannya pun telah dituntunkan secara lengkap oleh Nabi Muhammad SAW dan kini kita tinggal mengikuti tata cara yang telah beliau sampaikan. Berikut ini adalah ulasan mengenai sejarah pelaksanaan ibadah haji dan umroh yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sejarah Awal Ibadah Haji

Sejarah Haji Dan Umroh Di Zaman Rasulullah-Awal mula pelaksanaan ibadah haji tak bisa dipisahkan dari sejarah hidup keluarga Nabi Ibrahim AS. Sejarah pembangunan Ka’bah sendiri memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Mereka berdua diberi mandat secara langsung oleh Allah SWT untuk mendirikan Ka’bah. Setelah itu, Allah SWT menyerukan pada keduanya untuk melaksanakan ibadah haji dengan cara mengelilingi Ka’bah dan melaksanakan serangkaian ibadah di tempat tersebut.

Sayangnya, fungsi Ka’bah sebagai tempat pelaksanaan ibadah haji sebagaimana yang telah Allah perintahkan pada Nabi Ibrahim dan Ismail AS, justru malah dijadikan sebagai tempat penyembahan berhala oleh generasi pra-Islam. Masyarakat Arab pada masa jahiliyah biasa menyembah berhala, seperti Al-Uzza, Al Latta, Manah, dan Hubal. Karena itulah, Baitullah (rumah Allah) oleh mereka dijadikan tempat seagai penyembahan berhala-berhala tersebut.

Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, beliau membawa perubahan yang begitu besar terhadap fungsi Ka’bah. Beliau berusaha untuk mengembalikan fungsi Ka’bah sebagaimana tujuan pembangunan semula yang dirintis oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, yakni menjadikan Ka’bah sebagai pusat peribadatan bagi umat Islam.

Meski telah diangkat sebagai Nabi dan Rasul, tidak serta merta Nabi Muhammad SAW dapat melaksanakan ibadah haji. Beliau harus menunggu hingga tahun ke -10 Hijriyah untuk bisa menjalankan ibadah haji bersama kaum muslimin. Karena itulah, kisah umroh dan haji Nabi Muhammad harus kita pelajari agar kita dapat meneladani kisah perjuangan beliau dalam memperjuangkan kemenangan umat Islam atas kota Mekkah dan menguasai Baitullah sehingga akhirnya dapat melaksanakan ibadah haji dan umroh.

Kisah Umroh Nabi Muhammad

Sejarah Haji Dan Umroh Di Zaman Rasulullah-Nabi Muhammad SAW berencana melaksanan ibadah haji bersama 1500 sahabatnya ke Mekkah pada tahun 6 Hijriyah. Dari Madinah, mereka mengenakan kain ihram (kain putih tanpa jahitan) serta membawa unta untuk qurban. Namun perjalanan ibadah haji tersebut tidak dapat terlaksana karena Nabi dan para sahabatnya dihadang di Hudaibiyah oleh kaum kafir Quraisy. Kemudian di tempat tersebut mereka melakukan perundingan yang kini kita kenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian tersebut merugikan kaum muslimin karena pada tahun itu mereka dilarang untuk melaksanakan ibadah haji dan bisa datang kembali tahun depan untuk melaksanakan haji dengan waktu yang sangat terbatas, yaitu 3 hari saja.

Pada tahun 7 Hijriyah, Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah umroh ke Baitullah untuk pertama kali bersama dengan 2000 kaum muslimin. Di sana, Nabi beserta rombongan melakukan thawaf 7 putaran, melaksanakan shalat di maqam Ibrahim, minum air Zam-Zam, melakukan Sa’i dari Bukit Shafa ke Marwah, dan melakukan tahallul atau mencukur rambut.

Kisah Haji Nabi Muhammad SAW

Meskipun ada begitu banyak rintangan dari para pembenci Islam, akhirnya pada 8 Hijriyah, kaum muslimin berhasil menakhlukan kota Mekkah dengan mengalahkan kaum kafir Quraisy atau biasa dikenal dengan sebutan Fathu Makkah. Mereka pun berhasil menghancurkan berhala yang terdapat di sekitar Ka’bah dan berhasil mengembalikan fungsi Ka’bah seperti semula.

Pada tahun 9 Hijriyah, Rasulullah mengangkat Abu Bakar As-Shidiq sebagai Amirul Hajj untuk menyertai kaum muslimin melaksanakan ibadah haji. Pada saat itu Rasulullah tidak ikut melaksanakan ibadah haji karena masih terikat dengan perjanjian Hudaibiyah yang melarang beliau untuk masuk ke kota Mekkah.

Baru pada tahun 10 Hijriyah akhirnya Rasulullah dapat melaksanakan ibadah haji. Beliau merasa bahwa misi dakwahnya telah sempurna, karena itulah beliau merencanakan untuk melaksanakan haji yang terakhir atau haji Wada’ (haji perpisahan).

Muhammad Husain Haikal dalam kitabnya Hayat Muhammad menegaskan, pada tanggal 25 Dzulkaidah tahun kesepuluh  Hijriyah Nabi berangkat dengan membawa semua istrinya, masing-masing dalam kendaraannya.

Beliau berangkat dengan diikuti jumlah manusia yang begitu berlimpah para penulis sejarah ada yang menyebutkan 90.000 orang dan ada pula yang menyebutkan 114.000 orang. Mereka berangkat dibawa oleh iman, jantung mereka penuh kemuliaan, penuh keikhlasanm menuju ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji  besar.

Ketika mereka tiba di Dzulhulaifah, Nabi mendirikan kemah (tenda) hingga lewat tengah malam pada pagi harinya Nabi menyuruh seluruh jamaah haji mengenakan pakaian ihram dengan pakaian ihram inilah mereka menghadap Tuhan dengan derajat yang sama samabil bertalbiah yang diikuti oleh kaum muslimin di belakangnya.

Setelah memasuki kota Mekah, Nabi segera menuju ke Ka’bah untuk melaksanakan tawaf tujuh kali putaran, lalu nabi berdoa dimakam Ibrahim. Setelah itu Nabi keluar dari Masjidil Haram untuk melakuka sai (jalan setengah berlari) antara  bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Setelah ibadah sa’i terlaksana, Nabi membebaskan seluruh jamaah haji dari hal-hal yang dilarang selama ibadah haji berlangsung.

Pada tanggal 8 Dzulhijah, Nabi meninggalkan kota Mekah menuji ke Mina dan beliau bermalam di tempat tersebut. Setelah menunaikan shalat Subuh, Nabi menuju ke tanah Arafah dan di tempat ini kemudian beliau menyampaikn khutbahnya. Ada empat pesan penting yang terkandung dalam khutabah tersebut.

Pertama,nasihat untuk senantiasa mengabdi kepada Allah SWT. Kedua, nasihat agar menghargai harkat martabat para perempuan (istri-istri). Ketiga, nasihat supaya umat Islam senantiasa menjaga  ukhuwah islamiyah, dan yang keempat, terakhir ialah menjadikan agama Islam sebagai agama yang resmi, hal ini diungkapkan oleh Nabi setelah menerima wahyu terakhir:

“Pada hari ini  Aku sempurnakan agama-Ku untuk kamu sekalian dan telah aku sempurnakan pula nikmat-Ku untuk mu dan Aku rela Islam menjadi agamamu sekalian”. (Qs. Al-Maidah: 5).

Setelah Nabi Muhammad membaca ayat tersebut yakni surat al-Maidah ayat 5,  Nabi meninggalkan Arafah pada sore hari dan menghabiskan waktu malamnya di Muzdalifah. Pada hari berikutnya nabi menuji ke Masy’aril Haram lalu dilanjutkan ke Mina. Di sinilah Nabi menyembelih kurban 63 ekor unta masing-masing untuk 63 tahun usia Nabi, lalu nabi menggenapkan kurbannya menjadi 100 ekor unta.

Setelah itu Nabi Muhammad memotong sebagian rambutnya yang menandai kesempurnaan pelaksanaan ibadah haji. Dalam menjalankan haji wada ini, nabi menjelaskan secara praktis bagaimana umat Islam menjalankan kewajiban dalam ibadah haji.

Bagi Anda yang tertarik untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh, kini telah hadir biro perjalanan haji dan umroh Nur Hamdalah

Nur Hamdalah perusahaan perjalanan haji dan umroh  yang telah terpercaya dan terjamin legalitas hukumnya sehingga Anda merasa tenang dan nyaman saat melaksanakan ibadah di Tanah Suci. Nur Hamdalah, perusahaan perjalanan haji dan umroh yang selalu berkomitmen untuk melayani calon jamaah haji dan umroh dengan kualitas terbaik. Percayakan kebutuhan haji dan umroh Anda bersama Nur Hamdalah Nurul Hayat Group.